Glory Of Love

Tittle    : Glory of Love
          Author: Gyi Imnida
          Cast     :

v  Choi Seol Ri ®  Peran utama 1 & Anak dari Choi Siwon & Yeojachingu dari Byun Baekhyun.

v  Byun Baekhyun ® Peran utama 2 & Anak dari Yuri & Namjachingu dari Choi Seol Ri.

v  Choi Siwon ® Appa dari Choi  Seol Ri

v  Yuri ® Eomma dari Byun Baekhyun

v  Seo Young Joo ® Bocah yang dekat dengan Seol Ri.

v  Ryu Hyun Kyung ® Eomma dari Young Joo

v  Wu Fan ® Orang yang 1 asrama dengan Seol Ri di Singapore. Cameo aja sih ^_~

Genre  : Romance

Lenght : Oneshot

Mukadimah: Anyeonghasseyo!!! Insadurimnida, GYI imnida. Ini FF pertama yg aku publish, jadi mohon maaf apabila banyak terjadi kejangalan-kejanggalan dalam alur cerita, juga gaya bahasa aneh yang masih kaya anak SD lagi diskripsi. Tujuan dari FF ini bukan untuk membuat pusing pembaca nya, tapi cuma untuk hiburan semata. ^_~. Nih FF udah lama terbengkalai di lepi. Ibarat oncom, dah jamuran tak tertahankan [?] kaya nya. Aku inget, huruf pertama aku ketik itu pada 11-11-2011. Kurang lama gimana coba? Bahkan Casts nya aja banyak yang belum debut waktu itu. Ckckck. Tapi yang di publish ini udah di rombak Casts nya. ohya, disini semuanya Seol Ri POV ya. Yasud lah, malah ngedongeng. Yokk mari kita baca tugeder. Cekibroott…!!

CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT DAN KEJADIAN, TRUSS MASALAH BUAT GW??? #halahh

 

 

#~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~#

Akhir Juni, memasuki musim hujan. Pagi yang dingin dan terasa nyeri di tulang. Ku lihat pemandangan di luar dari jendela kamarku. Kabut putih masih menyelimuti penjuru kota.

Ku raih jaket yang menggantung di lemari dan ku langkahkan kakiku ke luar rumah. Ku berjalan jalan di sisi jalan kota menikmati pemandangan yang sudah lebih dari 3 tahun sama sekali tak pernah ku lihat. Terlihat di tepi tepi jalan para pemilik toko mulai membuka tokonya. Oh, aku sangat merindukan suasana seperti ini.

Ku dengar jeritan suara anak kecil memanggilku dari kejauhan, ”Seol Ri noona…”. Aku menoleh ke belakang. Itu Young Joo, anak pemilik toko asesoris di seberang sana yang dulu saat aku masih sekolah di sekolah menengah pertama sering ku kunjungi tokonya . Ia berlari mendekatiku. Ku rendahkan tubuhku dan ku peluk ia.

 “Ya! apa kabar?”

 “Aku baik baik saja. Bagaimana dengan noona? Neomu bogoshipeoyo.”

“Jinjja? Nado bogoshipeo, Young Joo-ya. Seperti yang kau lihat, aku pun baik baik saja. Sekarang kau sudah besar ya.”

 “Tentu. Sekarang umurku sudah 7 tahun, sedangkan saat terakhir noona menemuiku, aku masih berumur 4 tahun.”

 “Hemmm..!!”

 “Kapan noona kembali?”

 “Kemarin sore.. Uhm, mianhae Young Joo-ya, aku harus segera pulang.”

 “Baiklah. Hati hati! Sempatkanlah lain waktu untuk mampir ke tokoku. Nanti noona akan ku ajak ke rumahku.”

 “Okey. Titipkan salamku untuk orang tuamu ya!”

“Tenang saja! Akan segera ku sampaikan salam dari noona untuk orang tuaku. Mereka pasti senang.”

 “Baiklah, aku pergi. Daah..!”

 “Daah..!”

 Aku bergegas pulang. Ketika sampai di rumah, masakan eomma sudah menyambut.

 “Seolie, kau dari mana, nae aegyi?”

 “Jalan jalan, mma. Aku sangat rindu pada kota ini.”

 “Uhm, baiklah. Ayo makan dulu.”

 “Ehmm.. mma, sejak kemarin ku tak melihat appa. Kemana ia?”

 “Appamu sedang ada tugas di luar kota. Mungkin besok lusa sudah pulang. Bersabarlah untuk menantinya!”

 “Baiklah!”

Setelah semua selesai, aku pun segera mandi dan siap untuk kembali menjelajah kota ini. Aku ingat, ada satu tempat favoritku yang belum aku kunjungi. Aku menyebutnya “Taman Surga”. Tempatnya begitu indah, seluruh permukaan tanahnya tertutup oleh padang rumput nan hijau, banyak bunga tertata rapi yang tumbuh disana, barisan pohon pinus berdiri gagah menjulang dan sebuah danau yang luas membentang dengan kerlip cahayanya serta ber-back ground tebing berselimut pepohonan . Tempat itu memang indah, tapi entahlah setiap aku ke tempat itu pasti tak ada seorang pun di sana. Padahal tempat itu tak jauh dari pusat kota, apakah tidak ada yang tau tentang keberadaan Taman Surga ini? Tapi karena sepinya tempat itulah yang membuat aku menyukainya. Aku bisa berteriak sesukaku untuk menuangkan seluruh keluh kesah di tempat itu jikalau aku tak kuat menahan beban hati.

Ku lihat jam didinding, sudah pukul 11:45. Matahari sudah berada di atas kepala, kebetulan hari ini cerah dan tidak hujan. Tapi ku urungkan dulu niatku untuk ke tempat itu. Aku akan kesana sore nanti.

 

Ini sudah agak sore, cuaca juga sudah lebih teduh, aku berangkat menuju Taman Surga. Ku kayuh sepedaku sambil menikmati semua pemandangan di sepanjang  jalan yang tak asing lagi bagiku ini. Tidak banyak yang berubah, hanya saja kini sudah ada sebuah bangunan rumah makan cepat saji di dekat jembatan gantung di sudut jalan sana. Di Taman Surga, ku parkir sepedaku di bawah pohon pinus. Senyumku mengembang lebar, hatiku terasa damai memandang pemandangan ini. Nyaris tak ada yang berubah dengan tempat ini meskipun sudah tiga tahun tak pernah ku kunjungi, dan tetap saja tak ada seorang pun disini kecuali aku. Aku duduk memandang indahnya danau yang berkilau.

 “Kelak aku akan mengajak nae namja chingu kemari..” gumamku dengan senyum mengembang.

Tak terasa sudah pukul 17:00, aku harus pulang. Malam harinya sebelum aku tidur, ku buka kalender di hand phone ku. “Aigoo, besok lusa Young Joo ulang tahun. Aku harus memberinya sebuah hadiah. Dia pasti senang.” Ku pikir pikir sejenak, “Hadiah apa yang akan ku berikan pada Young Joo? Sudahlah, akan ku pikirkan besok saja.”

 

Hari ini aku pergi ke sebuah swalayan. Disana ada banyak sekali barang barang yang bagus, tapi aku bingung akan membeli yang mana. Mataku pun tertuju di rak rak sepatu. Sepatu yang di jual disana bagus bagus. Ku hampiri tempat itu dan ku pilih sepasang sepatu yang menurutku cocok untuk Young Joo. “Young Joo pasti suka dengan hadiah ini!”.

Setelah ku dapatkan apa yang kumau dan membayarnya, aku bergegas pulang kerena cuaca agak mendung. Aku khawatir akan turun hujan, sedangkan aku tidak membawa payung.

 

       “Appa..!!” seruku sambil berlari mandekatinya.

       “Oh anakku sayang. Kau sudah kembali rupanya. Appa sangat merindukannu,nae  aegyi.”

       “Nado, appa.”

       “Oh ya, sekarang appa dan eomma telah menuruti kemauanmu untuk istirahat satu tahun dulu. Tapi appa berharap, tahun depan kau bersedia untuk melanjutkan sekolahmu ke perguruan tinggi. Eotteokae?”

       “Mudah mudahan aku telah siap, appa. Dan aku akan mempersiapkannya dari sekarang.”

       “Baguslah, nak. Kami bangga padamu.” kata appa sambil mengusap kepalaku.

      Sang mentari telah tarik selimut, jam pun telah menunjukkan pukul 19:00, kami  makan malam bersama. Walaupun kami ini keluarga kecil, tapi kami hidup dengan bahagia dan tercukupi. Malam ni terasa nyaman dalam buaian kehangatan dengan di warnai oleh lelucon lelucon yang di buat appa.

       Keesokan harinya aku pergi ke tokonya Young Joo untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikannya hadiah yang telah ku persiapkan sedari kemarin. Di sana, aku di sambut hangat oleh appa dan eomma Young Joo yang kebetulan sedang berada di toko juga.

       “Saengil Chukka, Young Joo-ya.”

       “Oh, kamsahamnida. Ternyata Seol Ri noona masih mengingat hari ulang tahunku.”

       “Tentu. Dan ini ada hadiah untukmu.”

       “Wow, igeo mwoya? Bolehku membukanya sekarang?”

       “Silahkan!!”

       “Wooowww, choda. Jeongmal kamsahamnida. Aku sayang padamu.” katanya sambil memelukku.

       “Nado. Sekarang coba kau pakai sepatu itu!”

      “Pas sekali dengan ukuranku.”

       “Kau suka?”

       “Nae, aku sangat menyukai ini. Oh ya, mau kah noona singgah di rumahku sekarang? Jebal, mau ya!” bujuk Young Joo padaku.  “Eomma, boleh ya Seol Ri noona singgah di rumah kita, sekarang?” tanyanya pada sang eomma.

       “Tentu. Suatu panghormatan bagi kami jika kau mau berkunjung ke rumah kami, Seol Ri-ya.”

       “Hemm.” jawabku sambil mengangguk.

       “Baiklah.. Kajja..!”

Aku di gandeng Young Joo hingga sampai di rumah mereka yang lokasinya tak jauh dari situ. Jaraknya pun masih sangat terjangkau dengan berjalan kaki. Di sana aku di hidangkan secangkir teh hangat dengan setoples kue kacang. Kalau di lihat dari rumahnya, mereka memanglah keluarga sederhana. Tapi ku rasakan ketenteraman dalam rumah ini.

       “Mianhae Seol Ri-ya, ajhumma tinggal dulu ya. Young Joo-ya, tetaplah disini menemani Seol Ri noona!”

       “Siap!” jawab Young Joo semangat.

       Saat aku dan Young Joo lama berbincang, kami mendengar ketukan pintu dari arah luar.

       “Young Joo-ya, geu nugu? Cepat bukakan pintunya!”

       “Nae.”

       Pintu di buka **silau men!!**, ku lihat seorang namja sebayaku, tapi sepertinya lebih tua sedikit dariku,  yang  mengantarkan sebuah bingkisan.

        “Duduklah dulu, hyeong. Aku ganti dulu alasnya.” ucap Young Joo pada namja itu.

       “Annyeonghaseyo. Ireumi mwojyo?” tanyanya dengan tersenyum manis.

      “Choi Seol Ri imnida. Neo?”

       “Panggil saja aku Baekhyun! Byun Baekhyun.”

Kami pun berjabat tangan dan kemudian Young Joo telah kembali. Namja itu pamit pulang, dan tak lama berselang barulah aku yang pamit. Di sepanjang  jalan aku masih mengingat wajah namja itu, “Baekhyun..!! Aku suka namanya.” gumamku sambil tersenyum. Tak ku sangka, di perjalanan pulang aku berpapasan dengan Baekhyun. Ia yang sedang bersepeda motor mengurangi kecepatannya dan menyapaku, ku balas sapaannya dengan senyum. Biarpun kami baru kenal, tapi menurutku dia orang yang  baik, ramah dan murah senyum.

       Keesokan harinya aku di ajak eomma berbelanja di pasar. Oh, lagi lagi aku bertemu Baekhyun. Kembali ia menyapaku dan hanya ku balas dengan senyum. Sejak saat itu kami menjadi sering bertemu dan semakin akrab. Bahkan ketika ku pergi ke toko Young Joo untuk membeli sebuah atau beberapa asesoris, ternyata ada Baekhyun juga disana. Kebetulan hari ini ia di toko sedang mengajari Young Joo mengerjakan tugas sekolahnya.

       “Ya! kau sering kemari ya rupanya?” tanyaku memastikan.

       “Nae, hampir setiap hari aku kemari. Aku jenuh di rumah, dari pada aku pergi ke tempat tempat yang tidak jelas, lebih baik aku kemari.” jawabnya sambil tersenyum sekilas.

       “Oh, nae.”

Aku segera memilih milih benda apa yang akan ku beli. Setelah ku dapatkan apa yang ku cari, aku duduk sejenak di kursi yang berada di dekat Young Joo dan Baekhyun karena aku tak mau buru buru pulang, yang penting benda yang ku mau sudah ku dapatkan. Di tempat itu aku sempat mengobrol dan bergurau dengan Young Joo, appanya Young Joo dan Baekhyun yang menghantarku pada pukul 13:05. Aku dan Baekhyun izin undur diri karena sudah mulai gerimis. Di depan toko Young Joo, Baekhyun sempat bertanya padaku,

       “Kalau ku boleh tahu, dimanakah rumahmu?”

       “Rumahku di sebelah rumah Donghae ajhussi. Kau mengenalnya bukan?”

       “Nae, aku mengenalnya, karena Donghae ajhussi itu kerabat dekat mendiang appaku.”

       “Mendiang? Umh.. mianhae, apa kau sudah tidak punya appa?”

       “Nae, appa ku telah meninggal dua tahun lalu. Oh, ya. Tapi bukankah rumah yang berada di sebelah rumah Donghae ajhussi itu rumah Choi Siwon ajhussi? Atau, jangan jangan kau memang anaknya Siwon ajhussi?”

       “Nae, ia appaku. Kau mengenalnya?”

        “Aku tak begitu mengenal appamu itu, hanya aku tahu. Tapi jika kau memang anak Siwon ajhussi, mengapa aku tak pernah melihatmu?”

       “Aku sedang di tempat nae harabeoji. Aku sekolah disana dan aku baru pulang sekitar satu minggu yang lalu. Kalau begitu, sempatkanlah berkunjung ke rumahku!”

       “Baiklah, akan aku usahakan.”

Dan kami pun bergegas pulang ke rumah masing masing. Dua hari berikutnya, ternyata Baekhyun menepati ucapannya. Malam itu ia datang ke rumahku, dan baru sebentar saja kenal dengan orang tuaku,  mereka sudah terlihat sangat akrab. Lima belas menit ia mengobrol dengan orang tua ku, lalu orang tua ku masuk ke dalam dan meninggalkan aku dan Baekhyun di ruang tamu. Kami pun mengisinya dengan obrolan obrolan mulai dari yang ringan hingga yang berbobot. Dan dari situlah kami mulai semakin mengenal satu sama lain dan aku tahu ternyata Baekhyun beberapa bulan lebih tua dariku, jadi aku akan memanggilnya oppa.

       Pagi yang cerah, matahari bersinar terang dan langit biru yang membentang luas pun ikut menyemarakkan hari ini. Aku memutuskan untuk pergi ke Taman Surga. Aku sudah kembali rindu pada tempat itu. Aku bergegas ke tempat itu agar sebelum pukul 13:00 aku sudah bisa kembali berada di rumah. Sesampainya di sana ada sebuah kalimat yang sudah tak kuat ku pendam dan ingin segera ku luapkan. Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak di sisi danau.

       “Byun Baekhyun…  nan neo joahae…!!”

Ku hela nafasku. Sudah lebih lega rasanya, dan memang itulah yang kini aku rasakan meskipun aku tak tahu apakah Baekhyun pun memiliki rasa yang sama seperti rasaku ini. Tapi mungkin aku akan merasa seperti terbang melayang layang ke lapisan langit yang paling tinggi jikalaulah memang Baekhyun membalas rasaku. Berbagai harapan aku tuturkan di tempat itu dan aku berharap, semoga doa dan harapanku bisa menjadi kenyataan. Lama ku berada di tempat itu, aku segera pulang dengan perasaan berbeda. “Aku ingin melihatmu siang ini, Baekhyun.” gumamku. Namun sepanjang jalan kususuri aku sama sekali tak bertemu ataupun sekedar berpapasan dengan Baekhyun, bahkan di toko Young Joo pun Baekhyun tak ada. Aku sedikit murung, tapi ya sudahlah, lain waktu pasti dapat bertemu kembali. Setelah ku lalui pagi yang amat cerah, namun turunlah hujan di sore harinya. Aku merasa jenuh, tapi tak lagi ketika hand phone ku berdering ada pesan masuk dari Baekhyun. Sore itu menjadi lebih berwarna meskipun hujan. Dan malam harinya Baekhyun menelephoneku,

       “Yeoboseyo!”

       “Yeoboseyo.. ada yang bisa ku bantu?”

       “Uhm, apakah hari minggu besok kau ada waktu luang?”

       “Minggu? Ya, besok aku punya banyak waktu luang. Wae?”

       “Aku ingin mengajakmu ke pantai. Maukah kau ikut?”

       “Uhm, boleh juga.”

       “Okay, pada harinya aku akan menjemputmu.”

      “Ehmmm…”

       Hari yang di tunggu pun tiba. Aku sudah menunggu Baekhyun di beranda depan yang tak lama kemudian Baekhyun pun datang dan kami siap berangat ke pantai. Disana, aku benar benar takjub dan terpesona akan keindahan alamnya. Ombak besar yang menghantam bebatuan, pepohonan yang melingkar mengelilingi lokasi pantai, tak terlalu ramai dan begitu bersih tempat itu dari sampah sampah.

       “Kau suka?” tanya Baekhyun memecah kekagumanku.

       “Nae, tempat ini begitu indah. Tak kalah indahnya dengan Taman Surga.”

       “Taman Surga? Apa itu?”

       “Euhh.. umh.. Suatu tempat yang aku suka. Suatu saat akan ku ajak oppa kesana.” jawabku.

Setelah sepuluh menit aku dan Baekhyun hanya berdiri di tepi pantai, Baekhyun pun mengajakku untuk duduk di atas batu besar yang ada di sisi kiriku. Ternyata pemandangan terlihat lebih indah jika dilihat dari atas bebatuan.

       “Seol Ri-ya…!” panggilnya.

       “Umh… nae?”

       “Boleh aku bertanya suatu hal padamu?”

       “Tentu. Katakanlah!!”

       “Maukah kau menempati ruang hatiku?” tanyanya malu. Begitu pertanyaannya berakhir, aku terdiam sejenak. Aku yang tak terlalu bodoh pun mengerti apa maksud pertanyaannya barusan. Ku rasakan seperti ada yang melecus dari jantungku ini. Bagaimana tidak, aku tak menyangka ternyata ia memiliki rasa yang sama seperti rasaku padanya. Dan benar seperti gumamanku saat di Taman Surga kemarin. Saat ini aku merasa seperti melayang bebas ke tingkatan  langit yang paling tinggi. Aku tak mau menyia nyiakan kesempatan emas yang menghampiriku saat ini. Aku pun tersenyum sambil memandangnya.

       “Apa itu tanda isyarat iya?” tanya Baekhyun memastikan.

Aku kembali tersenyum dan mengangguk. Dan yang tak terduga, Baekhyun pun memelukku. Dengan rasa yang masih segan, aku pun membalas pelukkannya, aku meneteskan air mata di pundaknya karena tak sanggup menahan gejolak rasa bahagia di hatiku.

**backsong>> Eunkwang ft. Sungeun –LOVE VIRUS**

       Kami pun menikmati pemandangan indah pantai di temani terpaan angin yang  membius. Tak lama dari itu, kepalaku sudah terasa berat dan kelopak mataku sudah sulit untuk di buka. Aku segera mengajak Baekhyun pulang.

       “Gomawo atas kesempatan yang kau berikan padaku. Aku akan berusaha menjaganya semampuku.” ucap Baekhyun sambil memandangku.

       “Ku pegang  ucapan oppa. Dan besok akan ku beri tahu pada oppa yang ku maksud Taman Surga tadi.”

      “Baiklah. Aku pulang. Jaga selalu diri dan hatimu untukku.”

       “Emhh..”

 

Aku dan Baekhyun sampai di Taman Surga, ternyata Baekhyun pun menyukai tempat itu. Dari itu kami sering mendatangi Taman Surga dan sesekali ke pantai yang kemarin itu, hingga pada saat  hubungan kami sudah berusia enam bulan dimana kami harus berpisah karena keadaan. Tahun ajaran baru bagi para pelajar yang membuat kami pun harus kembali melanjutkan pendidikan. Apalagi aku di daftarkan oleh ayah di salah satu universitas Singapore. Itu bukan jarak yang dekat di tambah lagi ternyata Baekhyun justru melanjutkan pendidikannya di Australi. Kami berangkat dari bandara dan jam yang sama. Dan itu menjadi pertemuan kami yang terakhir di tahun ini.

“Jaga selalu diri dan hatimu untukku!” bisik Baekhyun sebelum pergi.

“Oppa juga!” sahutku dengan linangan air mata.

“Nae, Uljima!”

Kami pun berpisah. Tapi inilah jalan yang memang mesti kami tempuh. Ini bukan akhir, tapi ini justru awal dari perjalanan cinta kami yang sebenarnya untuk mewujudkan bagaimana GLORY OF LOVE  itu .

      Dalam dua tahun pertama komunikasi kami tetap terjaga hingga pada suatu hari aku harus kecurian hand phone dan komunikasi kami pun terputus.

“Oh Tuhan.. aku sama sekali tidak hafal nomor Baekhyun oppa dan orang tuaku. Eotteokae? Arrrghh… baboya!” gerutuku. “Ahaa!! Jangan sebut aku mahasiswi jika aku tak bisa memecahkan masalah ini. Aku akan mengirim surat ke orang tuaku.“

Setelah satu bulan ku kirimkan sepucuk surat ke eomma appa, aku pun mendapat surat balasan dari mereka. Tapi sepertinya ini bukan hanya surat yang ku dapatkan, melainkan sebuah bingkisan.

“Oh. Ini yang aku tidak suka. Lagi lagi aku harus menambah beban biaya untuk orang tuaku. Aku memang membutuhkan ini, tapi mengapa harus segera di ganti oleh orang tuaku? Mereka membelikan ini untukku. Tapi apakah saat ini mereka dalam materi yang lebih. Bagaimana kalau sedang krismon?” ocehku saat membuka bingkisan tersebut dan ternyata isinya sebuah hand phone dan sebuah surat. Tapi ada satu titipanku yang tak dapat di penuhi oleh orang tuaku. Nomor hand phone Baekhyun. Ya sudahlah, pasti orang tuaku sudah berusaha keras untuk memenuhi permintaanku yang satu ini, hanya saja belum mendapatkan hasil.

“Aku harus bersabar dua sampai tiga tahun lagi.” gumamku lesu.

Tiga bulan kemudian aku mendapat kabar buruk dari appa, katanya eomma sedang sakit. Aku yang sedang rindu berat terhadap orang tuaku terutama eomma tak kuasa menahan deraian air mata. Aku bilang pada appa bahwa aku ingin pulang , aku ingin menemui eomma dan appa. Appa pun menyetujuinya tapi dengan syarat tak boleh lebih dari seminggu aku di rumah. Bukan karena apa, tapi aku harus tetap fokus terhadap pendidikanku dulu yang akan menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tuaku kelak setelah aku lulus dari sini.

Tiga hari kemudian, aku pulang ke Korea. Rasa haru dan rindu menyelimuti hatiku. Kulihat eomma yang terbaring di tempat tidur memebuatku kembali menumpahkan air mata. Ku peluk erat tubuh eomma, air mataku semakin deras membasahi pipiku dan pundak eomma. Kata appa keadaan eomma saat ini sudah membaik. “Kalau seperti ini saja sudah membaik, bagaimana sebelumnya?” pikirku. Semakin hari semakin tak tega jika aku harus kembali meninggalkan eomma, dan juga appa tentunya. Saat hari ke empat aku di rumah, aku merasa rindu menghujam batinku. Baekhyun, sudah lebih dari dua tahun aku sama sekali tak bertemu dengannya.

“Appa, mianhaeyo menggangumu. Boleh ku tanya sesuatu?” kataku sambil membuka pintu ruangan appa.

 “Nae, katakanlah nak!”

 “Apakah appa pernah mendapat kabar tentang Baekhyun oppa?” tanyaku sembari duduk di samping appa.

 “Kau merindukannya, aegyi?”

 “Nae, appa. Naneun geunyeoreul geuriwo.”

 “Dua hari sebelum kau datang, ia baru saja berangkat kembali ke Australi setelah satu minggu ia berada di Korea. Mianhae, appa tak mengabarimu.”

Aku hanya tertunduk lesu tak kuasa menahan sesak di dadaku. Rindu pun kembali mendzolimiku. Tapi aku yakin, pasti akan ku temukan kebahagian di balik semua ini.

Tak terasa sudah hampir seminggu aku di sini dan telah tiba saatnya aku harus kembali ke Singapore.

 “Jaga dirimu baik baik, sayang. Eomma dan appa selalu berharap yang terbaik untukmu.” kata eomma.

 “Eomma…” seruku sambil memeluk eomma sebelum aku berangkat ke bandara. “Tetap jaga kesehatan eomma juga. Aku tak mau kembali mendengar kabar bahwa eomma sakit.” sambungku sambil terisak. “Appa, tolong jaga eomma! Eomma , aku titip appa ya!”

Appa dan eomma pun tersenyum. Mata appa sedikit merah menahan air mata yang hendak keluar, dan eomma sudah lebih dahulu pipinya basah sebelum aku.

 “Mianhae, eomma tak bisa mengantarmu ke bandara. Hanya appa yang mengantar tak apa kan?”
Aku mengangguk dan segera berangkat ke bandara dengan di antar appa. Saat di pesawat aku  kembali teringat Baekhyun. Ku pejamkan mataku dan kembali air mata ini menetes. “Ah, cengeng!” gumamku. Ku usap air mata dengan sapu tangan. Beberapa jam telah berlalu, dan aku sudah kembali berada di Singapore. Semua terasa seperti kilat. Masih jelas terbayang saat aku berangkat ke Korea seminggu lalu dan kini aku sudah harus kembali menjalani kehidupan disini. Sesampainya di asrama, tempat tinggalku selama menuntut ilmu disini, aku segera mandi dan membereskan ruanganku. Pada malam harinya, Catherine temanku yang tinggal di lantai atas dan sekaligus teman satu kelasku memberi tahu bahwa lusa ada kelas. Aku mengerutkan dahi, tapi inilah tugasku sebagai seorang mahasiswi.

 “Malam yang membosankan. Aku butuh udara segar.”

Aku bergegas menuju puncak atas asrama. Dinginnya angin malam terasa membius. Gemerlap cahaya lampu kota yang setia menemaniku di tempat ini. Bayangan Baekhyun pun terus mengusik pikiranku. Ku rasa hanya wujud Baekhyun lah obat rinduku.

**backsong>> Kim Sunggyu – I Need You**

Setelah lama disini, wajah dan tanganku sudah terasa dingin jika di sentuh. Aku pun segera kembali ke kamarku.

Kembali terasa waktu bergulir secepat angin yang berhembus. Dan sudah tiga bulan aku disini setelah kepulanganku ke Korea lalu. Banyak hal mengesankan selama dua bulan ini, tapi sepertinya tidak untuk hari ini dan beberapa hari kedepan. Beban hati, mental, dan pikiran kembali menghampiriku. Tak biasanya appa menelephoneku, apalagi tahu bahwa dari Korea menelephone kemari membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

 “Apa kabarmu, chagi?” sapa appa.

 “Aku baik baik saja, appa. Umh.. suara appa agak serak, appa sakit?”

 “Aniya, appa tidak sakit. Chagiya… uhm… kuatkan hatimu nae!”

 “Maksud appa?” tanyaku bingung

 “Nak… eommamu sudah tiada. Ia telah mendahului kita.”

 “Ah, bercanda appa keterlaluan.”

 “Appa tak bercanda, chagi.”

“Appa bohong!” tukasku.

“Appa tak berani membohongimu, nak.”

“Aniyo… Aniyo appa… Tidak mungkin.” sangkalku dengan air mata mulai berderai.

“Apa yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, chagi.”

“Appa… Aku ingin pulang sekarang juga.”

“Andwae chagiya! Kemarin lusa kau bilang kalau kau akan ujian dekat ini. Dan juga sebelum eommamu meninggal, ia berpesan pada appa untuk memberitahu padamu, jika sebelum kau lulus kuliah dan eomma sudah terlebih dahulu di panggil Yang Kuasa, ia mau kau tidak larut dalam kesedihan dan tetap fokus dalam kuliahmu. Yang appa minta hanya doa mu. Sudahlah, chagiya.  Uljima!”

“Apa benar eomma berpesan begitu?”

“Nae. Appa tak akan membohongimu. Jika kau memang sayang dan berbakti pada eommamu, taatilah kata katanya!”

“Tapi, appa…”

“Nak…”

“Baik, appa.” sahutku tertunduk pasrah.

Panggilan pun di akhiri. Aku langsung berlari ke puncak atas asrama. Aku berdiri memandang kebawah agak lama, jalanan pun terlihat sedang ramai, dan ku pejamkan mataku sejenak. “Hanya orang bodoh yang mau mati bunuh diri lompat dari gedung ini.” ucapku terbata bata di sertai isak sedihku. Aku duduk bersandarkan pagar pembatas puncak gedung. Aku terus mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti mengalir.

“Eomma, mianhaeyo. Aku tak bisa sepenuhnya merawat eomma saat eomma sakit dan aku pun tak ada, bahkan jauh dari sisi eomma saat eomma hembuskan nafas yang terakhir… Baekhyun, aku butuh hadirmu untuk menghiburku.” bisikku.

**backsong>> Kim Sunggyu – I Need You**

Dan di dekat tangga, ku lihat ada seorang pemuda seumuranku, oh tidak. Tampaknya lebih tua beberapa tahun dariku. Aku mengabaikannya, tapi ternyata dia yang melihatku lantas menghampiriku.

“Excuse me.”

“Umh..”

“What are you doing here?”

“Nothing.”

“Don’t lie! You are crying, right?”

“Uhm.”

“If I may know. What makes you cry like this?”

“Not your matters.”

“I’m sorry, I don’t mean to interfere in the problem. Sorry.”

“Never mind” jawabku sambil mengangkat pandanganku ke arah orang itu.

“Hey, you look like a korean.” serunya.

“Yes, I’m korean. Why?”

“Oh, I’m Chinese. Tapi aku lama tinggal di korea. Bangapseumnida. Wu Fan imnida.” katanya sambil menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.

“Seol Ri imnida. Mianhae, could you leave me alone?”

“Okay, it’s not problem. But, if you want meet me, I stayed in the room number 14.” katanya sembari meninggalkanku.

Aku tak menjawabnya. Ia pun pergi dan kini hanya ada aku sendiri di tempat itu. Setelah beberapa lama, aku melihat jam tanganku. Ternyata aku sudah dua jam menangis di tempat ini. Perutku pun terasa lapar, ya mungkin juga karena aku sudah terlalu lama menangis. Aku pun kembali ke ruanganku, aku makan dengan rasa yang sama sekali tidak nyaman.

Selama satu minggu aku di rundung duka, hingga pada akhirnya aku sadar, aku harus bangkit. Ya! Bangkit!

**backsong>>EXO-HISTORY part>> Ireona! Ireona! Ireona! Turn it up! Turn it up! Turn it up!**

Meratapi nasib tidak akan membuahkan hasil jika tak ada usaha. Hari ini hari Senin, aku mencoba untuk relax dalam menjalani semua rutinitasku seperti saat eomma masih ada. Lama lama aku pun mulai terbiasa dengan kehidupan seperti ini.

Di suatu pagi yang redup aku melihat kalender,

“Aku masih akan terus berada di negara orang ini sampai satu setengah tahun kedepan. Masih lumayan lama… Euh,, appa..!! Aku tidak tega bila harus melihat appa kesepian menjalani hari harinya, apakah aku harus merelakan appa mencari pengganti eomma?” pikiranku mulai melayang layang memikirkan seorang pendamping appa, tapi bukan berarti aku begitu saja melupakan mendiang eommaku, hanya saja aku tak tega pada appa yang kesepian. Aku pun memutuskan untuk menelephone appa untuk membicarakan soal istri untuk appa yang sekaligus yang akan menjadi eomma baru untukku. Dan setelah ku telephone appa, ternyata appa memang kesepian, tetapi masih belum bisa mencari orang yang dapat menggantikan sosok mendiang eomma. Tapi, appa juga bilang akan mencoba mencarikan calon eomma untukku yang juga bisa merawat appa dan aku setulus hati. Hingga pada beberapa bulan kemudian, appa mengabariku bahwa appa telah menemukan seorang wanita yang dapat menggantikan wujud eomma untukku, “tapi tidak di hatiku dan di dalam darah yang mengalir ini”. Kata appa, yeoja itu cantik, baik, ramah, keibuan dan banyak pula sifat sifatnya yang mirip dengan mendiang eommaku. Aku tersenyum lega mendengarnya. Dan setelah aku pulang ke Korea kelak, aku akan segera punya eomma lagi. Eomma tiri tentunya.

Satu tahun lebih telah berlalu, setelah aku menamatkan kuliahku dan aku pun telah di wisuda, kini tiba saatnya aku pulang ke Korea. Perasaanku berbunga bunga, aku sudah teramat merindukan kota kelahiranku itu. Kebahagianku pun tak dapat ku utarakan dengan kata kata setelah aku kembali menginjakan kaki di Korea ini, tapi sebahagianya aku, tak akan terasa sempurna tanpa adanya sosok eomma yang telah melahirkanku di sisiku. Dibandara ini aku di sambut hangat oleh appa serta ajhussi dan ajhumma yang turut menjemputku. Kami pun bergegas  pulang.

Sesampainya di rumah, air mataku nyaris tak mampu ku bendung mengenang masa masa bersama eomma dulu. Tapi itu semua mustahil bisa kembali terjadi.

“Appa, apakah besok appa bisa menemaniku ke makam eomma?”

“Tentu. Kau mau appa temani pagi, siang, atau sore hari?”

“Pagi.”

“Baiklah.”

“Oh ya, appa pernah bilang padaku bahwa appa telah menemukan yeoja yang mirip mendiang eomma. Boleh ku tahu siapa nama yeoja itu?”

“Ia bernama Yuri. Kapan kapan akan appa ajak kau untuk menemuinya.”

“Baiklah. Aku tunggu tiba waktunya.”

Keesokan pagi, aku dan appa mengunjungi makam eomma. Sejauh mata memandang terlihat hamparan rerumputan yang terpotong rapi dengan berhiaskan barisan nisan di sana sini yang di warnai dengan buke buke bunga di atasnya. “Rumah masa depan..”celetukku.

Tak lama kemudian aku dan appa pun bergegas pulang. Di rumah, aku memandang foto eomma yang masih terpajang rapi di dinding ruang tamu, lalu aku segera masuk ke kamar. Ku peluk bantal gulingku erat erat. Dunia ini terasa sangat sangat sepi tanpa di temani eomma dan Baekhyun. Keduanya sama berartinya untukku. Tapi aku tak dapat mengelak takdir, mungkin belum saatnya aku bahagia. Setelah satu minggu aku di Korea, aku mendapat panggilan untuk bekerja di salah satu instansi pemerintah. Wah, betapa bahagianya aku. Ku beritahukan kabar gembira ini pada appa, dan appa pun ikut senang mendengarnya, besok lusa aku sudah bisa mulai bekerja.

Hari pertama ku mulai bekerja, aku sudah bisa menyesuaikan diri pada lingkungan dan juga sudah lumayan banyak orang orang yang aku kenal disana. Hari itu pun berlalu dengan membawa banyak kesan dan kalimat yang dapat ku torehkan di buku harianku. Tapi tetap sama seperti biasanya, aku tak dapat menghilangkan bayangan Baekhyun dari fikiranku sebelumku telelap, bahkan saat terlelap pun bayangannya masih sering menggodaku. Namanya tak habis ku sebut di saatku terjaga, harapan yang masih tersirat dalam batinku hanyalah aku ingin bertemu dengannya, melampiaskan seluruh rinduku padanya. Selama ini teman yang paling setia menemaniku di saat aku merindukannya hanyalah titikan air mata yang senantiasa membasahi pipi. Terkadang aku merasa tak berdaya di kala rindu datang menghunus palung jiwaku yang sepi. Setelah ku mengenal Baekhyun, ku merasa duniaku ini lebih berwarna dan setiap malam tak ketinggalan penaku mengukir indah namanya dalam buku harianku dengan tinta biru di dalamnya. Dan dampaknya, ketika aku berada jauh darinya kesepianku pun tenggelam dalam dunia yang kelabu tak berwarna. Mungkin rasaku padanya sudah begitu dalam tertanam dan akarnya pun sudah menyebar menutupi semua halaman istana cinta dalam hatiku.

Tiga bulan telah berlalu dan besok adalah hari ulang tahunku. Aku tak kuasa lagi menahan rindu yang terus menggerogoti kesabaranku. Aku merasa putus asa. Aku hampir gila. Oh Tuhan, tolong hamba!!!
Sejenak aku sadar bahwa masih banyak hal yang lebih penting dan harus ku selesaikan daripada harus menjadi gadis gila, tapi jujur saja aku tak dapat mengubur dalam dalam perasaan ini. Hari ini aku merasa tak enak badan, nafsu makan sama sekali tak terlintas dalam benakku, hanya rasa sesak di dada yang terus aku rasakan selama masih ku pendam perasaan ini. Aku merasa tak mampu untuk bekerja hari ini. Ku putuskan untuk izin tak bekerja dulu sampai keadaanku membaik, dan ku fikir esok hari keadaanku akan membaik, tetapi kenyataaannya pun tidak seperti yang di harakan.

“Seol Ri-ya, kau masih sakit?” tanya appa yang hendak berangkat bekerja. Aku pun hanya tersenyum menjawab pertanyaan ayah.

“Appa tak tega meninggalkanmu di rumah sendiri, nak. Tapi hari ini appa tak bisa izin karena ada urusan penting.” sambung appa lagi.

“Sudahlah appa. Appa berangkat kerja saja. Yakinlah, aku tak akan apa apa selama appa tak di rumah.”

“Kau yakin, chagi?”

“Aku sangat yakin, appa.”

“Baiklah, jaga dirimu baik baik ya. Appa akan segera pulang jika tugas appa sudah selesai. Oh ya, jangan lupa makan. Tadi appa sudah masak lauk kesukaanmu.” aku mengangguk dan melepas senyum kusamku mengantar keberangkatan appa ke tempatnya bekerja. Sekitar satu jam kemudian, ku dengar ketukan pintu dari arah depan. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju ruang tamu dengan bertumpuan pada dinding. Ku buka pintu dan aku takjub, aku pun tersenyum. Itu Young Joo bersama Kyung ajjhumma, ternyata mereka hendak menjengukku.

“Dari mana ajhumma tahu bahwa aku sedang sakit?”

“Tadi appa mu mampir ke toko ajhumma, lalu Young Joo menanyakan tentang dirimu dan sekaligus appa mu memberi tahu bahwa kau sedang sakit.”

“Oh… oh ya, mianhaeyo, aku belum sempat singgah ke rumah atau sekedar ke toko kalian setelah kepulanganku dari Singapore sekitar tiga bulan lalu.”

“Nae, gwaenchana. Kami maklumi, dan mungkin sekarang kau sudah menjadi orang sibuk ya.” kata Kyung ajhumma. Aku pun tersenyum mendengarnya.

“Tapi aku merindukanmu, noona.” celetuk Young Joo.

“Hahaha… jinjja? Kemarilah, peluk aku!” seruku pada Young Joo yang berada di sisi eommanya. Dan Young Joo pun menghanghampiri dan memelukku.

“Aku ingin menggendongmu, tapi rasanya mungkin aku sudah tidak kuat. Oh ya, Young Joo, berapa umurmu sekarang?”

“12 tahun.”

“Haaa?” kataku terkejut.

“Waeyo?” tanya Young Joo.

“Wow, kau sudah semakin besar rupanya.”

“Tentu. Aku semakin besar dan kau semakin tua. Hahaha.”

“Hussh… jaga bicaramu, Young Joo!” seru Kyung ajhumma.

“Hahaha, gwaenchanayo, ajhumma. Menurutku itu celetukan yang menggemaskan.” kataku, dan Kyung ajhumma pun hanya tersenyum malu.

Tak lama kemudian mereka pun pamit pulang. Kunjungan mereka kemari cukup membangkitkan semangat hidupku hingga aku ingat kembali untuk makan. Ku lihat jam di dinding menunjukan pukul 9 pagi. “Ah, masih pagi. Aku akan sarapan dulu.” gumamku sembari menuju ruang makan. Dan saat ku makan di suapan pertama, “Wow, ha..ha.. masakan appa semakin enak rupanya.” gumamku. Aku pun merasa lebih baikan dan bertenaga. Tapi setelahku bercermin, wajahku masih terlihat agak pucat, dan aku pun berusaha menghiasi wajah pucatku itu dengan senyum alakadarnya. Tapi saat ku lihat ke sudut cermin tedapat sticker bertuliskan “GLORY OF LOVE”. Aku sangat ingat kapan aku menempelkan sticker itu di cermin ini. Ya, saat usia hubunganku dengan Baekhyun genap lima bulan. Tapi kini Baekhyun menghilang bak di telan bumi. Ia masih belum kembali dari Australia dan juga belum ku dengar kabar darinya hampir tiga tahun ini. Apa aku masih dihatinya? Ataukah sudah ada yeoja lain yang menggantikan posisiku? Lagi lagi gairah hidupku down setelah mengingat Baekhyun. Aku berusaha mencari hiburan yang dapat menumbuhkan semangatku lagi, tapi hanya sia sia. Aku kembali lesu. Hingga tiba saatnya appa pulang dari kerja pada pukul 17:30.

“Bagaimana kabarmu, nak?”

“Beginilah, ppa.”

“Kau sudah makan?” tanya appa, dan aku pun hanya menggeleng.

“Kau mau appa ajak keluar rumah? Kalau mau, nanti ya pukul 7 malam.” sambung appa, dan aku hanya senyum dan tertunduk.

Saat pukul 7 malam appa dan aku berangkat mencari hiburan di luar rumah. Sebelumnya appa mengajakku mampir di sebuah restaurant. Sebenarnya aku sedang tidak nafsu makan, tapi aku harus tetap menghargai usaha appa ini. Aku tahu sebenarnya appa masih lelah lekas pulang kerja, tapi demi aku ia rela menutupi rasa lelahnya itu untuk membuatku kembali tersenyum bahagia.

**backsong>> BtoB-FATHER**

Setelah selesai , appa kembali mengajakku menjelajahi kota mencari tempat yang indah dan penuh warna. Di sepanjang jalan tak begitu ramai, tapi lampu lampu hias dengan ragam bentuk dan warnanya yang berada di pinggir pinggir jalan berhasil meramaikan suasana. “Andai saat ini aku bersamamu, Baekhyun.” gumamku dalam hati. Ketika waktu menunjukan hampir tengah malam, aku dan appa pun segera pulang. Udara malam yang berhembus menyentuh wajahku dari celah jendela mobil yang sedikit ku buka terus terasa sampai ku tiba di rumah.

Keesokan harinya keadaanku sudah mulai membaik, tapi aku belum kembali berangkat kerja karena dengan keadaanku yang belum 100% fit ini, aku takut kalau justru akan mengganggu pekerjaanku nanti. Pagi hari saat appa akan berangkat kerja, appa terlebih dahulu mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Awalnya aku bingung, aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Tapi aku bersyukur, ternyata orang yang ada di sekelilingku tak lupa jika ini hari ulang tahunku. Saat jam menunjukan pukul 09:00, aku pergi ke makam eomma. Disana aku mengingat semua hal yang ada dalam memori ingatanku saat masih bersama eomma dulu. Terlebih pada saat saat aku berulang tahun seperti saat ini. Ulang tahunku kali ini terasa begitu mengenaskan. Hampir semua orang yang ku cintai dan sayangi tak ada di sisiku, kecuali appa yang masih tetap setia menemaniku hingga hari ini. Aku tak lagi mampu membendung air mata. Tapi tak lama kemudian, aku segera beranjak dari sisi makam eomma. Aku memutuskan untuk pergi ke Taman Surga, aku ingin menangisi semua ini disana. Aku tahu, menangisi keadaan sama saja mengambil air dengan cawan yang berlubang. Sia sia dan tak akan membuahkan hasil kecuali lelah dan lapar. Tapi apa boleh buat, hanya dengan menangislah aku bisa sedikit mengurangi ganjalan di hati. Aku ingat, dulu appa pernah bilang padaku, “Meskipun kau perempuan, tapi kau tidak boleh cengeng.” Aku ingin menerapakan kalimat itu, tapi juga kalimat dari eomma yang juga masih teringat olehku adalah, “Jika kau ingin menangis, menangislah. Itu akan mengurangi beban perasaanmu.” Namun kini semua terserah padaku, manakah yang akan ku turuti.

Sepanjang jalan menuju Taman Surga, aku berusaha menahan air mataku, aku tak mau ada orang yang tak aku kenal melihatku menangis. Di Taman Surga, aku tak lagi kuat membendung luapan air mata yang hendak meleleh ke pipiku. Saat ini aku butuh teman yang mampu meneduhkan perasaanku. Tapi sepertinya saat ini aku tak mempumyai itu. Aku hanya tertunduk di tekukan lututku dan sesekali memandang ke tebing dan danau yang berada di depanku, hingga entah berapa lama aku berada di tempat itu, masih dengan posisi yang sama. Beberapa saat kemudian, aku mulai bisa menghentikan aliran air mataku, kemudian aku merasa ada yang menyentuh pundakku, aku segera menoleh ke belakang. Saat itu, seolah detak jantung dan aliran darahku berhenti, aku sama sekali tak bergerak, dan lagi lagi air mataku menetes, aku seperti bermimpi. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Baekhyun? Ia datang menemuiku. Hembusan nafasku kembali terasa, dan aku langsung memeluknya erat.

“Aku datang untukmu.” seru Baekyun.

“A…a…a…aku… aku…aku rindu padamu, oppa.” kataku perlahan.

“Kau boleh memukulku. Aku tahu aku keterlaluan.”

“Aku tak ingin memukulmu oppa, aku hanya ingin kau tak lagi jauh dariku.”

“Iya, aku tak akan lagi meninggalkanmu dengan jarak yang terlampau jauh.” balasnya sambil mengusap kepalaku.

“Tapi, darimana oppa tahu aku ada disini?”

“Magnet hatimu yang menarikku kemari.” jawabnya yang di imbangi senyum manisnya. Aku pun hanya tersenyum mendengarnya. “Oh ya, saengil chukka hamnida, ini untukmu.” katanya sambil menyodorkan kotak kecil.

“igeo mwoya?”

“Buka sajalah!”

Aku takjub setelah membuka kotak kecil itu, sebuah kalung dengan bandul huruf  “BS” bertumpuk serta permata biru yang menghias setiap tepinya. Aku menatap matanya dalam dalam. “Gomawo.” kataku padanya penuh haru. Saat ini perasaanku di penuhi rasa bahagia. Seolah seperti tak ada satu pun masalah yang pernah menghampiriku.

          “Kau terlihat pucat. Apa kau sedang sakit?” tanyanya penuh khawatir.

“Nae, aku sedang tidak sehat.”

“Apa kau sakit karena aku?” tanyanya kembali. Aku pun hanya tersenyum, karena jawabannya memang iya. Baekhyun pun mendekapku, “Mianhae, chagiya.” serunya. Aku tak menjawab kata katanya barusan, tapi tiba tiba pandanganku kabur dan entah apa lagi yang terjadi.

Beberapa jam kemudian, aku kembali bisa membuka mataku.

“Apa aku sedang  di rumah sakit?” celetukku.

“Kau sadar, Seolie? Nae, kau sedang di rumah sakit.” jawab Baekhyun yang ternyata ada di dekatku.

“Dimana appaku?”

“Appamu belum datang.”

“Euh, sudah berapa lama aku disini?”

“Kurang lebih 3 jam?”

“Haaa? Lalu, sekarang pukul berapa?”

“Pukul 2 siang.”

“Oh, aku pasti sangat merepotkan oppa.”

“Sudahlah, gwaenchana. Yang terpenting sekarang kau banyak istirahat dulu.” kata Baekhyun. Lantas aku pun menggenggam tangannya. Tapi setelah semakin erat aku menggenggam tangannya, maka semakin lama semakin  tak terasa kalau aku sedang menggenggam tangannya dan akhirnya semua kembali gelap.

Beberapa saat kemudian ketika ku tersadar, sudah ada appa sisiku, dan Baekhyun masih belum beranjak dari tempatnya.

“Syukurlah, kau sudah sadar chagi.” seru appa khawatir.

“Sekarang pukul berapa?” tanyaku yang masih linglung.

“Kau kembali tak sadar selama 15 menit, Seolie.” jawab Baekhyun.

“Nae chagi. Kata dokter, kau sangat kurang istirahat dan asupan gizi. Apa selama appa tinggal bekerja kau tidak makan, eoh?” tanya appa.

“Belakangan nafsu makanku menurun, ppa.” jelasku.

“Kau ini.” celetuk appa.

Dua hari kemudian aku sudah di perbolehkan pulang, dan semakin hari keadaanku semakin membaik. Aku kembali menemukan semangat hidupku yang hampir usang. Kini duniaku kembali berwarna, ada appa dan Baekhyun yang selalu menyemangatiku. Suatu malam aku bertanya pada appa,

“Appa, kapan appa akan mengenalkanku pada Yuri ajhumma? Aku ingin segera bertemu dengannya.”

“Jinjja? Baiklah, secepatnya akan appa ajak kau menemuinya.”

“Uhm.. ku tunggu tiba saatnya.”

Seminggu kemudian, appa mengajakku bertemu dengan Yuri ajhumma. Tapi kata appa, Yuri ajhumma juga akan memperkenalkan anak laki lakinya padaku dan appa, karena selama 2 tahun appa mengenal Yuri ajhumma, appa memang belum pernah bertemu dengan anak laki lakinya itu. Aku sudah tidak sabar ingin melihat calon eomma tiri dan saudara tiriku  itu. Tepat pukul 7 malam aku dan appa pergi ke suatu restaurant untuk menemui Yuri ajhumma dan anaknya. Sesampainya disana, ternyata mereka belum datang, lantas aku pun sibuk mengotak atik hand phone, aku terus menunduk melihat ke hand phoneku sampai ketika appa memanggilku dan memberi tahu bahwa Yuri ajhumma sudah berdiri di sebelahku. Aku langsung tersenyum dan mengangkat pandanganku ke arah Yuri ajhumma, tapi seketika itu senyumku lenyap dan berubah menjadi tatapan takjub setelah melihat lelaki yang berada di belakangnya. Apa ini?

“Baekhyun oppa? Kau… kau anaknya Yuri ajhumma?” tanyaku dengan suara agak bergetar. “Appa…” sambungku sambil langsung menatap appa. Tapi appa hanya terdiam.

“Kau mengenalnya, Seol Ri-ya?” tanya Yuru ajhumma ramah. Aku tak menjawab, dan aku pun hanya menunduk.

“Mengapa eomma tudak pernah bercerita bahwa yang akan menjadi appaku adalah Siwon ajhussi?” tanya Baekhyun dengan nada sedikit emosi.

“Oh, kalian sudah saling mengenal satu sama lain rupanya.” kata Yuri ajhumma heran dan masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Arrgghhhh…!!!” seru Baekhyun dan langsung menarik tanganku untuk mengajakku pergi dari tempat itu.

“Baekhyun-ah… Seol Ri-ya…!!” panggil appa dan Yuri ajhumma beriringan.

“Ada apa sebenarnya ini?” tanya Yuri ajhumma dengan bingungnya.

“Anakmu adalah kekasih anakku, begitu sebaliknya.” jawab appa singkat.

“Oh, kita pasti telah melukai hati mereka.” kata Yuri ajhumma sambil terduduk lesu. “Kita harus membicarakan ini baik baik pada mereka hingga di temukan penyelesaiannya. Ini semua di dasari saling tidak tahu. Mugkin salah kita juga, kita tidak saling bercerita tentang siapa anak kita secara mendetail.” sambungnya.

“Nae. Aku menyesalinya.” kata appa.

          Semantara itu, Baekhyun mengajakku pergi ke suatu tempat. Kami berhenti di sebuah jembatan layang.

“Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini?” tanya Baekhyun memulai pembicaraan.

“Aku sangat menyayangi appaku, tapi aku tak mau menjadi dongsaengmu. Aku ingin selalu memilikimu.” jawabku sambil menoleh ke Baekhyun yang berada di sebelahku.

Baekhyun pun menunduk sejenak dan kemudian kembali mengangkat pandangannya. “Nado. Aku sangat menyayangi eommaku, dan aku juga pernah berjanji pada mendiang appaku kalau aku tidak akan menentang keputusan eomma. Aku tidak berani mengingkari janji, tapi aku pun tak mau jika harus menjadi oppamu.” tuturnya.

“Pasti Tuhan punya rahasia di balik ini semua. Jika memang kita sudah di takdirkan menjadi saudara, tak ada yang bisa menentang.” balasku.

“Uhm, kau benar.”

Kami pun duduk di pinggir jembatan tersebut cukup lama, hingga tak terasa sudah berapa kali jarum jam berputar.

“Oh ya, pukul berapa sekarang?” tamya Baekhyun.

Kulihat jam tanganku. “Oh, setengah 12, tengah malam. Ayo kita pulang.”

“Uhmmm.. tapi apa aku sanggup menyapa eommaku?”

“Ah, oppa ini. Sudahlah, bagaimana pun itu eommamu. Jangan sampai kita berjarak dengan orang tua kita, apalagi yang hanya tinggal satu satunya. Lain waktu kita berempat bisa kembali membicarakan masalah ini hingga ada titik temunya.”

“Baiklah.”

Kami pun segera pulang ke rumah, meskipun masih dengan perasaan yang berantakan tak karuan, hamburadul.

Baekhyun mengantarku sampai di depan rumah dan ia pun langsung pulang ke rumahnya.

“Appa…” panggilku sambil mengetuk pintu, dan tak lama kemudian appa pundatang dan membukakan pintu.

“Seol Ri-ya…” seru appa yang langsung memelukku. “Mianhae, chagi.” sambungnya.

“Uhm… nado mianhaeyo, appa. Aku tidak sopan, aku pergi seenaknya.”

“Gwanchana. Arraseo. Pasti kau dan Baekhyun sangat tidak menyukai hal ini.”

“Uhm..”

“Baiklah, sekarang kau istirahat. Besok kau masih harus bekerja, dan masalah ini bisa kita bicarakan lain waktu.”

“Baik, appa.”

Aku pun masuk dan menuju toilet. Aku berdiri di depan cermin, ku pandangi wajahku yang tampak kusam itu. Kusam, sekusam malam ini. Lantas ku basuh wajahku dan kembali kutatap cermin.

“Aku harus bersikap lebih dewasa. Masih banyak masalah di depan sana yang sudah siap menghampiri. Kalau baru ini sudah menyerah, lantas bagaimana nasibku pada masalah masalah yang akan datang?” gumamku. Aku pun segera ke kamarku, berganti pakaian lantas berbaring di atas tempat tidurku. Tapi rasanya mata ini sulit untuk di pejamkan. Kepalaku terasa pusing seperti memikirkan sesuatu, tapi aku justru bingung mencari hal apa yang harus ku fikirkan. Aku seperti orang gila, aku di buat pusing oleh hal yang tak jelas apanya. Ku lihat jam dinding sudah menunjukan pukul 00:30, seharusnya aku sudah tidur sejak tiga jam yang lalu, tapi sampai saat ini aku masih belum bisa tidur. “Apa aku bisa bangun tepat waktu? Sisa waktuku tinggal enam setengah  jam lagi sampai tiba waktunya untukku berangkat kerja dan setidaknya dua jam sebelum berangkat kerja aku sudah harus bangun. Aaaaarrrhhh… aku harus segera tidur.”

Aku pun berusaha untuk memejamkan mataku. Aku seolah berusaha menghipnotis diriku sendiri agar tertidur. “Tidur…tidur… ayo tidur…” gumamku dalam hati. Tapi, setelah lima detik berlalu, “Aaaaaaaaahh… aku ingin tertidur.” teriakku dengan suara tak begitu keras sambil sontak terduduk. Aku kembali berbaring dan berusaha untuk santai. Ku atur nafasku perlahan, dan aku pun teridur.

“Seol Ri-ya… Seol Ri-ya… ireona!” seru appa membangunkanku  dari luar kamarku, tapi sayangnya aku tak mendengarnya. Appa pun mengetuk pintu kamarku dan memanggilku berulang ulang. Karena tak ada respon dariku, appa pun mulai berfikiran yang tidak tidak. Appa takut kalau aku berbuat nekat karena kejadian semalam. Lalu appa membuka pintu kamarku tersebut, ayah menghela nafasnya setelah melihatku yang masih tertidur.

“Seol Ri-ya… Seol Ri-ya… ireona!” kata appa sambil mengguncang tubuhku.

Aku pun mulai membuka mataku. “Euh, pukul berapa ini?”

“Enam tiga puluh. Ayo bangun!” jawab ayah.

“Haaa? Enam tiga puluh?”

Aku pun langsung bangun dan segera membasuh muka. Lantas aku menuju dapur untuk membuat sarapan untukku dan appa. Tapi appa menyuruhku menghentikan pekerjaanku. “Tadi appa sudah buat sarapan. Itu, appa letakan di meja. Appa tahu kau masih lelah, jadi appa sengaja membangunkanmu agak siang dan membuatkanmu sarapan ini.”

“Uhm… appa..” kataku sambil tersenyum tipis.

“Segeralah kau habiskan sarapanmu itu, lantas mandi dan berangkat kerja. Okay??” seru appa sambil senyum dan memiringkan kepalanya.

“Yes, Okay..” balasku dengan mengikuti gerakan appa tadi dengan mata kiri tertutup.

Seminggu telah berlalu dengan biasa-biasa saja. Sore ini aku memutuskan untuk bertemu dengan Baekhyun. Aku ingin membicarakan tentang hubungan kami yang tergantung sejak kejadian di malam itu.

To: Baekhyunie
From: Seolie
Aku ingin kita brtemu sore ini di taman surga. Ku harap oppa dtg. Aku mnantimu, oppa!

To: Seolie
From: Baekhyunie
Ada apa?

To: Baekhyunie
From: Seolie
Apa-apa ada!

To: Seolie
From: Baekhyunie
Maksudmu?

To: Baekhyunie
From: Seolie
Cerewet!!! Yg pnting oppa hrs dtg! Ku tggu..

          “Mianhae, apa kau menunggu lama?” kata Baekhyun padaku sambil langsung duduk di sampingku.

          “Aniyo. Aku juga baru saja datang.”

          “Jadi ada apa? Kau merindukanku?.” godanya.

          “Ada yang ingin kubicarakan.” balasku agak lesu.

          “Mwoya?”

“Mari kita buat keputusan!”

“Keputusan? Keputusan apa?”

“Saat ini hubungan kita menggantung. Tapi aku rasa kita harus mengakhirinya. Dan aku akan berusaha menganggapmu sebagai kakak saja.”

“Emhh…” Baekhyun hanya menghela nafasnya. Kini raut wajahnya tak kalah lesu denganku. Aku tahu ini keputusan yang berat, tapi jika tidak di tempuh maka tidak akan ada titik penyelesaiannya.

“Eotteokae?”

“Heummhh! Tapi apakah ini jalan yang terbaiknya? Ketika kita benar benar menjadi saudara, mungkin aku justru akan semakin sakit melihatmu.”

“Oppa…” mataku berkaca kaca menatap mata baekhyun.

“Baiklah. Aku akan berusaha mencari yeoja lain selain dirimu.” ketusnya sambil beranjak meninggalkanku.

“Oppa…!!” seruku sambil langsung bangkit melihatnya.

“Itu pun jika aku bisa!” sambungnya.

Aku menatap kearah baekhyun yang masih berdiri tak jauh dariku. Aku semakin tak kuasa menahan butiran butiran air mata yang sedari tadi sudah siap meluncur di pipiku. Ku tundukkan kepalaku, kututupi wajahku dengan telapak tangan. Tak lama, aku merasa ada yang mendekapku. Baekhyun? Dia kembali? Dia memelukku? Aku merasa pundakku basah. Baekhyun menangis, eoh?

Cukup lama kami dengan posisi itu. Kurasa itu akan menjadi pelukan terakhir sebelum kami benar benar menjadi saudara tiri.

“Oppa… Gwaenchana?” ucapku memulai sambil menyeka air mataku.

“Aniya! Aku sangat tidak baik saat ini.”

“Sudahlah oppa. Tuhan pasti punya rahasia dibalik ini semua. Oppa bilang, oppa menyangi eomma. Jadi biarlah ia bahagia.”

“Baiklah. Mulai sekarang aku akan belajar dan berusaha untuk menganggapmu hanya sebagai dongsaeng.”

“Uhm!”

Dua hari kemudian, aku dan Baekhyun mengajak appaku dan eommanya untuk bertemu dan membicarakan tentang keputusan yang telah kami buat sebelumnya. Kami rela appaku dan eomma baekhyun menikah. Kami rela mengakhiri hubungan kami asal mereka bahagia, yaaaa meskipun di hati masih belum begitu ikhlas. Hari itu juga langsung kami semua tentukan hari pernikahannya. Ya. Minggu depan appaku dan eomma baekhyun akan menikah, itu berarti aku dan baekhyun resmi menjadi saudara tiri. Ohh sungguh tragis.

“Kau boleh menulis nama teman temanmu di daftar undangan, Seol Ri-ya. Kau juga Baekhyun.” kata appa.

“Nae!” jawabku dan baekhyun bersamaan.

Hari yang tak begitu ku nantikan pun tiba. Sekarang aku sedang menemani appa yang sedang di make up.

“Seol Ri-ya! Kau juga harus di make up ya.”

“Ahh, untuk apa? Yang mau menikah kan appa, bukan aku.”

“Tapi kau juga harus tampil cantik, anakku. Lihat! Appa saja sudah tampan begini seperti boyband, masa’ kau hanya biasa biasa saja seperti itu.”

“Yaaa.. Baiklah.. Baiklah.. Baiklah..”

 

***Baekhyun_part

“Ya, eomma! Eomma sudah begitu cantik. Tapi kenapa belum selesai juga?” gerutu Baekhyun sambil menduduki tepi meja.

“Selesai. Sekarang giliranmu!” kata eomma baekhyun seraya bangkit dan menarik sekaligus memaksa baekhyun untuk duduk di kursi rias.

“Ya! Ya! Ya! Eomma! Mwohaneungeoya?” berontaknya.

“Eomma ingin kau tampil tampan pada hari ini.”

“Memangnya selama ini aku tidak tampan?”

“Bukan tidak, tapi kurang. Hehe.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah keluargaku dan keluarga baekhyun berkumpul di tempat akan di langsungkannya akad nikah, tiba tiba appa dengan Yuri ajhumma di belakangnya menyatukan tanganku dan Baekhyun. Kami yang bingung dengan hal itu hanya menatap heran ke arah tangan kami yang disatukan oleh appa.

“Berbahagialah!” kata appa. Sontak saja aku dan Baekhyun langsung memusatkan pandangan ke appa dengan seribu tanda tanya memenuhi otak.

“Tapi…” ucapan Baekhyun terputus.

“Anakku. Kami rasa kami sudah terlalu tua untuk menikah lagi. Jadi kalianlah yang akan menggantikan posisi kami di acara pernikah ini.” kata Yuri ajhumma.

“Tapi undangannya…” kataku terputus juga.

“Di undangan ini tertulis nama kalian berdua. Bukan kami.” Sahut appa dengan senyum khasnya sambil menunjukkan undangan pernikahan itu.

Aku dan Baekhyun masih menatap undangan itu dengan bodohnya. Apa ini? Oh Tuhan terimakasih, ternyata ini lebih dari indah. Terimakasih. Kini aku dan Baekhyun bisa bersatu lagi. Bersatu dalam sebuah ikatan suci yang mengikat jiwa dan raga kami untuk saling memahami, mengisi, dan melengkapi. GLORY OF LOVE!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s