Fancy

Athor : abangKAI
Cast : Luhan, Qireen(OC)
Genre: Sad Romance
Leght : Drabble
Rating: G

Disclaimer
Cast milik yang maha kuasa dan SMent
Ide 100% milik author inspirasi datang dari beberapa lirik lagu kpop. Jika ada kesamaan sama ff lain berarti cuma kebetulan semata.

Remember it…..don’t be copas without permision!!!

Happy Reading

image

Dimalam yang hujan aku melihatnya, aku langsung ingin mengenalnya. Aku tidak ingin menjadi lelaki pecundang di hadapannya dan aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya. Lalu Kuberanikan diri untuk menyapanya, dia menanggapiku dengan positif. Senyumannya begitu indah dan manis, aku mulai jatuh cinta padanya ketika sorot mata kami saling bertemu, tentu hanya aku yang tahu.

“Qireen imnida” kata dia dengan lembut

“nado Luhan imnida” balasku

“kau sedang menunggu seseorang?” tanyaku

“bisa di bilang seperti itu” jawab Qireen

Untuk beberapa saat kemudian kami telah menjadi akrab dan aku menyukai hubungan kami yang seperti ini. Sebuah persahabatan yang sangat kuat. Yang aku harapkan akan menjadi hubungan yang lebih suatu hari nanti.

Tidak tahukah dia jika aku sangat mencintainya. Hatiku telah terkumpul untuknya.
Aku yakin jika kau dan aku bersama semuanya akan menjadi sempurna bahkan semua pria di dunia ini akan iri padaku jika aku memilikimu. Kau membuatku menjadi pria yang terbaik.

Kau selalu bilang jika kau tidak ingin menyakiti siapapun tapi aku tidak yakin dengan kata-katamu itu. Karena mungkin dirimulah yang akan tersakiti oleh dirimu sendiri juga.

Dalam suatu kesempatan aku menumukan  Qireen  sedang melamun, wajahnya tetap bersinar tapi aku bisa membaca pikiran dan hatinya. Jika dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggunya.

“waeyo?” tanyaku

“aku ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan kau larang” jawab Qireen dengan suara parau

Aku melihat dekat wajahnya. Matanya sembab dan wajahnya ternyata sedikit terlihat lesu. Apakah sesuatu yang buruk menimpanya? Bagaimana aku harus menanggapinya jika dia melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan?

Di saat seperti itu semua khayalanku memang hanya tetap menjadi sebuah khayalan. Aku hanya bisa terdiam dan mendengarkan curahan hati Qireen. Aku hanya akan bicara jika dia meminta tanggapanku.

Aku mendekap Qireen dalam pelukankuaku dan aku  tidak bisa menghentikan tangisannya bahkan cintaku pun tidak bisa menghentikannya.

Aku ingat kata-kataku bahwa aku tidak ingin terlihat sebagai pria yang pengecut dan lemah di hadapannya. Jadi aku hanya bisa menangis dalam hati dan aku terus menghipnotis diriku agar air mataku tidak jatuh. Itu berhasil dan aku bangga.

Aku melepaskan pelukannku pada Qireen. Qireen mengusap seluruh air mata yang membasahi pipinya. Seharusnya aku yang melakukan itu, tapi aku merasa tidak punya hak apapun atasnya. Aku hanya bisa menenangkannya dengan kata-kata lembutku.

“gomawo Luhan-ah, kau sudah mau menemaniku” katanya

“memang ini tugasku kan? Tapi apa kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan?”

Wajah Qireen tertunduk, ku lihat tangannya gemetar lalu aku pun menggenggam tanganya untuk menenangkan dirinya. Aku tahu hatinya sangat sedih bahkan lebih sedih dari ku, tapi jika dia akan melakukan hal itu, maka rasa sedih kita akan sama. Apakah ini adil? Aku tidak ingin ini terjadi tapi bagaimana dengan dirimu?

“ne, aku sudah yakin 100% Luhan”

“tolong jangan lakukan itu aku tidak ingin kau pergi” pintaku walau aku tahu jawabannya akan tetap sama

“mianhae…  aku tetap harus melakukannya, aku mohon jangan lupakan aku, karena suatu saat kita akan bertemu lagi”

Kami saling memaksakan senyuman kami, karena aku yakin Qireen dan aku merasakan kesedihan yang sama. Tapi Qireen tidak tahu seberapa besar kesedihanku, yang dia tahu aku hanyalah mencintainya sebagai sahabatnya.

Beberapa hari kemudian Qireen mengajakku untuk pergi berjalan-jalan sore di sebuah bukit. Ini pertama kalinya kami berjalan sambil bergandengan tangan. Tangan Qireen sangatlah lembut, aku terus memegangnya erat, tidak ingin melepaskannya.

Senyum Qireen terus mengembang seiring pijakkan kaki kami. Terkadang dia tertawa puas bersamaku. Aku menyukai Qireen yang seperti ini. Seolah waktu terasa begitu lama saat itu, aku mulai berkhayal ingin melindunginya di masa depan dengan seluruh cintaku dan kekuatanku.

“Luhan lihatlah!!!” sahutnya padaku dengan wajah cerianya

Qireen menunjuk ke arah langit berwarna oren dengan siluet berwarna jingga kemerahan hampir seperti pelangi.

“waaaahhhhh….!!!” aku melihat takjub pemandangan itu

Ku alihkan pandanganku kepada Qireen. Matanya membesar dan kembali senyumannya melebar. Cahaya matahari sore jatuh di wajahnya yang cantik. Aku tetap menggenggam tangannya, tersenyum yang sulit di artikan. Jika bersamanya sepert ini, perasaanku hanya bahagia karena inilah yang aku inginkan. Terus memelukknya dalam perasaanku.

“Luhan….” kata Qireen padaku yang mengalihkan pandangannya dari langit itu

“ne…?”

“kau juga sama” kata Qireen lagi sambil tetap tersenyum dan aku bingung apa maksudnya

“kau sama indahnya dengan langit itu, aku beruntung memiliki sahabat sepertimu”

Qireen, sekali lagi kau membuat cintaku bertambah dengan berkata seperti itu

“kau juga” kataku sambil tersenyum juga

Qireen pun kembali tersenyum untuk yang terakhir kalinya di hadapannku, senyuman yang menggambarkan semua perasaannya saat itu.

Di hari yang hujan aku melihatnya dan di hari yang hujan pula aku kehilangannya. Saat ini aku berdiri di sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Qireen. Kau telah pergi, aku tidak bisa menahanmu bahkan sekali saja tidak bisa. Aku hanya bisa menahan nafasku dan melihatmu berakhir. Kau tetap tersenyum meskipun itu hanya ragamu.

Dia telah melakukannya. Mendonorkan seluruh hatinya untuk orang yang dia cintai bukan untuk kekasihnya.

Aku dan Qireen sama, cinta kami bertepuk sebelah tangan. Qireen mencintai kekasih adiknya, tapi dia tidak pernah memberi tahu siapapun kecuali padaku. Mereka akan menikah, tetapi karena pria itu mengidap kanker hati stadium akhir, maka hari bahagia itupun tetunda. Hati Qireen sangat sakit mengetahui hal itu, dia tidak tega terus melihat adiknya menangis setiap hari. Walau mereka mencintai pria yang sama tapi dia sadar pria itu hanyamencintai adiknya, dan mereka saling mencintai.

Qireen tidak bisa memaksakan cintanya, dan dia tidak bisa menyalahkan siapapun karena cintanya. Dia tidak ingin merengut kebahagiaan siapapun termasuk kebahagiaan adikkya. Dia tidak ingin mengikuti hawa nafsunya untuk memiliki pria yang ia cintai, dia hanya bisa berkhayal sama sepertiku.

Aku salut pada Qireen yang mengambil keputusan seperti ini. Hanya mungkin ini pemikiranku, dia tidak ingin hidup di dunia ini dangan kesedihan, oleh sebab itu dia pergi dengan memberi kebahagiaan pada orang yang dia cintai. Tapi Qireen, apakah kau juga memberi kebahagiaan itu untukku?

Jika aku akan mengingat kembali di masa lalu, dimana aku mendengar suaramu itu seperti sebuah mimpi bagiku. Waktu kau tersenyum padaku itu sama seperti semilir angin lembut yang mengitariku. Kini giliran diriku yang melanjutkan kesedihanmu di dunia ini dan aku beharap bisa menjadi lebih kuat darimu. Diriku akan terus menjaga kenangan kita dengan cintaku, aku mencintaiku Qireen, semoga kau mendengarnya di sana.

THE END

Walaupun jelek tolong RCL nya ya…

4 thoughts on “Fancy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s