Are You My Destiny? Part 1

Author: abangKAI
Cast : Lee Han In (OC)
      Kim Minseok
      Oh Sehun
      Xi Luhan
Genre: Sad Romance
Leght : Chaepter
Rating : PG-15

Disclamer

100 % ide cerita milik author jangan ada yang coba-coba copas ni ff tanpa seijin author. Inspirasi datang dari kehidupan nyata author sendiri, jadi ceritanya agak nyerempet-nyerempet sama kehidupan nyata author. Cast tentunya milik yang maha kuasa, milik orang tua mereka kecuali OCnya buatan author dan Kainya milik author #plak *disini gak ada Kai woi*

Annyeong~ author is back *gendong Kim Baozi* ini pertama kalinya author bikin ff romance dengan castnya member EXO. Kenapa pake Minseok padahal bias author Kai? *gak ada yang nanya* tadinya si emang mau pake Kai ataupun Suho tapi ternyata Minseok lebih cocok di ff ini. Karena karakternya emang sesuai dengan dia.

Yesungdahlah Happy Reading. . . .

image

“ini tugasnya seongseonim”

Aku menyerahkan tugas bahasaku kepada Byun seongseongnim.

Saat ini aku sedang berada di ruang guru untuk menyerahkan tugasku.

Kulihat Byun seongseongnim membolak-balik kertas tugasku memastikan tidak ada kesalahan apapun.

“hahahahaha…baiklah aku mengerti”

Sebuah suara mengalihkan pandanganku dari Byun seongseongnim yang sedang memeriksa tugasku. Lalu aku mencari asal suara itu.

Seorang namja. Tingginya kira-kira 173 cm berkulit putih, pipinya terlihat chubby dan menggemaskan.
Rupanya dia namja yang tertawa tadi. Aku melihatnya, jaraknya kira-kira 4 meter di sampingku dan dia sedang berbicara dengan kepala sekolah. Dia siapa? wajahnya masih muda sekali, apa dia murid baru?

Beberapa saat aku memandanginya, entah kenapa rasanya menyenangkan sekali bisa memandang wajahnya. Dia terlihat sangat lucu membuatku tersenyum kecil.

DEG

Tanpa sengaja mata kami bertemu. Apakah dia menyadari kalau aku memandanginya? dia tersenyum kecil kepadaku yang masih terus memandangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan kepada kepala sekolah dan melanjutkan percakapannya, tanpa sempat aku balas senyumannya. Tapi apa memang benar dia tersenyum pada ku?

“Han In..?”

“….”

“Lee Han In?”

Aku sedikit tersontak saat Byun seongseongnim memanggilku yang masih bingung melamunkan hal barusan.

“n..ne seongseongnim?”

“kau mengerjakan tugasmu dengan baik..tidak ada kesalahan apapun..”

“benarkah?”

“ne…kau boleh kembali ke kelasmu”

“gamsahamnida” aku membungkukkan badanku, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari ruang guru.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kulangkahkan kakiku di sepanjang koridor sekolah. Pikiranku terus mengingat namja lucu itu. Ingin rasanya aku melihat wajah namja itu lagi, aku pasti tidak akan bosan memandang wajah namja itu.

Dia memang tidak tampan, tapi dia kan imut dan lucu. Menurutku memandang wajah orang tampan atau cantik itu terlalu membosankan. Tapi kalau memandang orang yang berwajah imut itu justru membuatku betah untuk memandanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“ck ah..mereka kemana sih?”

Aku berdecak sedikit kesal mencari kedua temanku di kantin. Baru saja aku meningalkan mereka sebentar ke ruang guru tapi mereka malah pergi duluan ke kantin.

“Han In-ah”

Baiklah itu pasti mereka yang memanggilku. Benar saja saat aku mencari asal suara itu, dengan wajah tanpa dosa mereka melambai ke arahku dan aku hanya menghampiri mereka dengan kesal.

“kau kenapa?” Sehun melihatku terkekeh karna aku datang dengan wajah kesal.

“salah mu sendiri, kau terlalu lama tadi” kini Luhan menimpali

“masa bodo aku tetap marah pada kalian” aku memalingkan wajah dari mereka berdua yang ada di hadapanku.

“yasudah..terserah kau saja..aku tidak rugi kok” respon Luhan dengan entengnya.

Aku hanya berdesis kesal melihat Luhan berkutat dengan handphonenya. Pasti dia sedang bermain angry bird oleh sebab itu dia tidak peduli dengan perkataanku tapi kalo di pikir-pikir dia memang seperti itu.

Ini memang bagus sekali, aku di abaikan oleh dua orang namja aneh yang notabene adalah temanku,padahal saat ini aku berada tepat di depan mereka. Sehun dari tadi serius melihat permainan Luhan dan mengabaikanku, tentu saja itu membuatku bertambah kesal.

“ya~~~ apa yang kau lakukan?” Luhan terkejut saat aku mengambil handphonenya.

“habiskan dulu makananmu baru bermain lagi” kataku dengan wajah tidak bersalah.

“bilang saja kau iri mau main juga kan?” Sehun menyindirku sambil mengangkat sebelah alisnya.

“wae? kau masih tidak bisa terima babinya warna hijau?” Luhan menambahkan.

“enak saja..buktinya level permainanku sudah lebih jauh dari kalian” tidak mau kalah akupun membela diri

“ah tetap saja kau masih tidak bisa terima babinya warna hijau” Sehun kembali menyindir sambil tertawa. Tentu saja Luhan ikut tertawa dan aku menggembungkan pipiku, melihat sebal kedua namja di hadapanku.

kenapa aku marah karna babi dalam permainan angry bird berwarna hijau?

Itu karna aku menyukai warna hijau dan aku juga menyukai babi, tapi babi dalam permainan angry bird itu kan antagonis..jadi aku tidak menyukainya. Siapa sih yang membuat karakter bodoh itu? babi berwarna hijau dalam permainan angry bird. Pokoknya aku tidak suka!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“yang terakhir sampai gerbang dia harus mentraktir bubble tea” mulai lagi pikiran bodoh Sehun.

Jelas Sehun yang akan menang dia kan ikut klub Lari Maraton [?]

“shiro!! ini hanya modusmu saja untuk mendapatkan bubble tea gratis kan?” aku menyelidik Sehun

“kau takut kalah lagi Han In-ah?” goda Sehun.

“cih..padahal kau tau kalo kau akan selalu menang” akhirnya Luhan membelaku.

“yah Luhan..Kenapa kau malah membelanya?”

“tidak pelu melakukan hal itu..biar aku yang menraktik kalian berdua” kata Luhan sambil tersenyum.

“hore!!!!” teriak kami berdua. Aku dan Sehun. Kemudian kami memeluk Luhan dengan sangat erat.

“Kyaaa~lepaskan!!!! kalian membuatku tidak bisa bernafas” teriak Luhan, membuat kami melepaskan pelukan kami dan tertawa bersama.

Murid-murid di sekitar kami hanya melihat aneh ke arah kami. ‘memalukan!!’ mungkin itu anggapan mereka, karna aku juga melihat sebagian murid yang berbisik-bisi sambil memandang ke arah kami.

Aku dan teman-temanku, Sehun dan Luhan. Menganggap itu hal yang biasa saja. Kita itu orang yang rasa percaya dirinya tinggi sekali tidak mau terlalu menjaga image. Kami akan bertingkah atau melakukan hal yang memalukan selama itu benar di mata kami lagipula bebas melakukan hal yang kita inginkan akan membuat diri kita bahagia kan? tentu saja selama itu perbuatan baik.

Intinya kami suka diri kami yang apa adanya dan tidak di buat-buat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jam 21.45 itu artinya sudah 2 jam aku belajar.

Aku merasa amat lelah mataku sudah berkunang-kunang minta untuk di istirahatkan.

“hoahm” aku menguap lalu membereskan semua buku-bukuku.

Besok pelajaran Kesenian, Biologi, Fisika, Bahasa, Matematika dan Olah Raga, kenapa harus ada dua pelajaran hitung-hitungan dalam 2 hari sih?

Hye Ri seongseongnim guru Biologi sedang cuti hamil selama 8 bulan aku penasaran seperti apa penggantinya apa lebih galak dari dia atau sebaliknya ya? tidak tau ah..yang penting aku mau tidur dulu kusimpan pikiran itu untuk besok saja.

Kuhempaskan badanku di atas kasur, otot-ototku kurenggangkan sejenak lalu bersiap memejamkan mata.
.
.
.
.
beberapa detik mataku sudah terpejam tapi aku belum tertidur wajah namja itu, namja yang ku liahat di ruang guru tadi siang, terus ada dalam bayanganku. Akankah aku memimpikannya malam ini? Aku rasa tidak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“Han In-ah” aku memalingkan wajahku ke arah Luhan saat dia memanggilku.

“mwo?”

“kira-kira pengganti Hye Ri seongseongnim seperti apa ya?”

“entahlah..berdoa saja semoga tidak segalak Hye Ri seongseongnim”

“bagaimana kalau lebih galak eoh?” sanggah Sehun

Hye Ri seongseongnim memang terkenal sangat galak dia gemar sekali memberi hukuman, ada yang berisik di suru keluar, tidak mengerjakan tugas tidak diperbolehkan mengikuti pelajarannya selama dua kali pertemuan, terlambat datang disuruh berlutut di luar kelas. Itu sebabnya banyak murid-murid yang tidak menyukainya tapi tidak termasuk aku.

Menurutku itu hal yang biasa saja. Lagipula cara pengajaran Hye Ri seongseongnim sangat jelas dan cepat di serap oleh otakku. Aku berharap guru penggantinya nanti tidak segalak Hye Ri seongseongnim karna aku juga sudah bosan di ajar guru yang terlalu galak.

GRUDUK GRUDUk GRUDUK

Para murid berhamburan kembali ketempat duduk masing-masing begitu mengetahui guru pengganti telah datang.

Semua terdiam sampai guru itu meletakkan buku-buku yang dia bawa di atas meja guru. Kemudian dia berjalan ke tengah depan kelas, aku rasa dia akan memperkenalkan dirinya.

Dan aku masih lekat memandangi guru itu seperti tidak peduli dengan keadaan sekitarku dan Sehun yang sedari tadi membicarakan guru pengganti itu bersama Luhan.

“annyenghaseyo~ joneun Kim Min Seok imnida, aku guru pengganti sementara Hye Ri seongseongnim selama dia cuti hamil”

Mwo!? mataku terbelak begitu mengetahui guru penggantinya adalah namja yang kemarin ku lihat di ruang guru, namja yang ku kira murid baru di sekolah ini.

Bagaimana bisa!? wajah dia masih sangat muda seperti siswa SMA kebanyakan. Apa dia melakukan operasi plastik?? ah, kau tidak boleh berfikiran seperti itu Han In.

“anggaplah aku sebagai guru kalian pada saat jam sekolah..di luar itu kalian bisa menganggapku seperti teman kalian sendiri, tidak usah merasa canggung, arachi?” jelas Minseok seongseongnim panjang lebar.

Sungguh dia berbeda sekali dari Hyeri seongseongnim yang galak tapi aku harap cara mengajarnya jelas saat menyampaikan materi sehingga otakku ini bisa menyerap dengan cepat.

“Ne..seongseongnim” jawab murid-murid serentak.

“kalo boleh kami tahu, seongseongnim itu umurnya berapa tahun?” jawab salah seorang murid yang membuat Minseok seongseongnim agak sedikit terkejut.

“eh?? umurku?”

“ne seongseongnim”

Lucu sekali melihat wajahnya yang agak sedikit terkejut. Aku juga penasaran seberapa tua dia sehingga memiliki wajah semudah itu.

“aku rasa di antara kalian pasti ada yang seumuran denganku” Minseok seongseongnim menjawab sambil tersenyum dan membuat para murid termasuk aku menjadi terkejut dan bertanya-tanya.

“memang seongseongnim di line berapa?” tanya murid itu lagi penasaran.

“94”

Mwo!? semua murid lagi-lagi terkejut termasuk aku. 94? itu berarti satu tahun di atasku dan seumuran dengan Sehun dan Luhan.

baiklah aku punya alasan untuk tidak memanggil oppa pada Sehun dan Luhan karna mereka sahabatku dan sekarang aku harus memanggil ‘seongseongnim’ pada namja yang seumuran dengan kedua temanku ini, bukan oppa atau namanya.
Ini begitu menggelikan untukku,

tapi kalau di pikir lagi Sehun, Luhan dan juga murid yang seumuran dengan mereka harus memanggil seorang yang berada di line yang sama dengan sebutan seongseongnim. Itu malah lebih menggelikan untukku, rasanya aku ingin tertawa.

“BUAHAHAHAHAHAHA” akhirnya pun aku tertawa memikirkan semua hal ini, sedangkan murid yang lain menatapku heran. Kenapa tidak ada berfikiran yang sama sepertiku sih?

“kau kenapa?” tunjuk Minseok seongseongnim padaku. Kupastikan dia pasti terkejut atau heran karna aku sendiri yang tertawa dan menganggap hal ini lucu sedangkan murid yang lain justru mereka merasa aneh dengan hal ini.

“ani, aniyo seongseongnim” jawabku yang masih menahan tawa dan malah membuatnya bertambah heran.

“lalu kenapa kau berada di sini? menjadi guru kami. Padahal kau seumuran dengan sebagian murid di sini”

Aku balik bertanya membuatnya agak sedikit terkejut lagi dan ekspresi lucu itu kembai muncul di wajah imutnya, membuatku tersenyum menunjukkan deretan gigiku ini.

“oh..itu karna aku menggambil program khusus yang membuatku lulus SMA dengan cepat, dan di umurku yang 19 tahun ini aku sudah meraih gelar S1, untuk mencari pengalaman oleh sebab itu aku menerima untuk menjadi guru pengganti di sini” jelasnya panjang lebar dan para murid hanya ber-oh-ria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak tahu ini apa. Tapi rasanya sangat menyenangkan memilikinya. Ini yang petama untukku dan selalu menjadi yang pertama untukku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sudah 2 bulan sejak Minseok seongseongnim mengajar di sekolah ini, dia akan berada 8 bulan di sekolah ini itu berarti 3 bulan sebelum tahun terakhirku di SMA.

Minseok seongseongnim memang benar-benar orang yang menyenangkan dia bisa berbaur pada murid-muridnya meskipun kebanyakan dengan murid namja. Tapi itu bagus kan, jadi terlihat faktanya kalau dia itu bukan tipe namja yang selalu mau meladeni setiap yeoja yang mendekatinya.

Aku saja tidak berani mendekatinya bukan karna takut akan responnya terhadapku. Setahuku Minseok seongseongnim itu orang yang susah di tebak kepribadiannya. Dia tidak pernah memarahi murid-muridnya, dia selalu bersikap lembut pada semua muridnya termasuk murid yeoja tapi dia juga tidak mau terlalu dekat dengan murid yeoja. wae? apa gara-gara ada seorang murid yeoja yang dia tahu menyukainya? oleh sebab itu dia jadi menjaga jarak dengan murid yeoja, takut jika dia menyakiti perasaan yeoja yang menyukainya.

Aku mencintainya, sangat sangat mencintainya. Oleh sebab itu aku takut mendekatinya bahkan hanya sekedar menyapanya saja aku takut. Aku takut dia mengetahui perasanku yang sebenarnya kepadanya dan aku takut dia mengangganggapku murid yang aneh.

Ani, akulah yang aneh mempunyai perasaan seperti ini. Bagaimana mungkin aku selalu menghindari namja yang sangat ingin aku miliki. Hanya berani menatapnya diam-diam, hanya berani menyimpan perasaan ini sendiri bahkan kedua sahabatku saja tidak ku beri tahu mengenai hal ini.

Aku benar-benar bingung dengan keadaanku saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“he Sehun, aku pinjam handphonemu dong” pintaku pada Sehun yang sedang asik mengutak atik handphonennya.

“untuk apa?” jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya.

“aku ingin bermain game” jawabku sedikit malas.

“memang punyamu kemana?” tanya Sehun yang lagi-lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari handphonennya. Membuatku sedikit kesal, ingin rasanya aku menendang namja bodoh ini tapi nanti aku malah tidak dipinjamkan handphonenya.

“lupa dibawa” jawabku singkat dengan nada yang sedikit kesal.

“ini” dia menyodorkan handphonenya padaku

“tapi nanti belikan aku bubble tea ya?” tambah Sehun dengan smirknya.

“cih, dasar kau ini!! udang di balik batu” cibirku pada Sehun dan dia malah tertawa.

“mati dong udangnya ketindihan batu” kini Luhan menyanggah kata-kataku yang di sambut oleh tawa Sehun.

“yak!!!!! kalian ini!!! sudah pergi sana, jangan ganggu aku” aku menendang kaki mereka berdua, membuat keduanya meringis kesakitan.

“aduh, kau ini galak sekali.” Sehun mengelus-ngelus kakinya yang kesakitan, menatapku kesal.

“pantas saja kau belum punya pacar” kini Luhan menimpali dengan nada mengejek

“mwo!? enak saja kau bicara, kalian berdua saja belum punya pacar” bentakku pada mereka

“tapi kan….” omongan Luhan terputus begitu aku memelototi mereka berdua.

“baiklah kami pergi” sambung Luhan yang dilanjutkan dengan langkah kaki mereka yang meninggalkan ruang kelas.
.
.
.
.
.
.
Kurang lebih 10 menit aku bermain game, tapi rasanya lama-lama jadi bosan juga.

Aku ingat kalau Sehun dan Luhan sangat dekat dengan Minseok seongseongnim, meski begitu aku tidak pernah bertanya tentang Minseok seongseongnim terhadap mereka. Takut jika mereka tahu kalau aku mencintai Minseok seongseongnim, mereka pasti akan menertawakanku yang jatuh cinta pada seongseongnimnya sendiri.

Sehun pasti memiliki nomor telepon Minseok seongseongnim, aku yakin itu!!!

Ketemu!! aku menemukan nomer telepon Minseok seongseongnim dengan nama Minseok-sshi?? apa Sehun tidak mengganggapnya guru eoh?? oh iya aku lupa kalau mereka seumuran bahkan Sehun lebih tua beberapa bulan dari Minseok seongseongnim…hahahaha dunia ini begitu unik ya..?

Aku mencatat nomer telepon Minseok seongseongnim, berencana menghubunginya malam ini. Memikirkannya saja jantungku sudah berdetak kencang. Entahlah nanti malam jadinya seperti apa. Semoga saja semuanya lancar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Setelah aku menghabiskan makan malamku aku beranjak ke kamarku untuk melakukan hal yang tadi ku rencanakan di sekolah. Malam ini aku pasti tidak belajar.

Kuraih handphoneku dan mulai mengetik sebuah pesan untuk Minseok seongseongnim. Mudah-mudahan saja ini nomernya benar.

To : Minseok Oppa

Annyeonghaseo~
apakah ini benar nomor Minseok seongseongnim??

Oppa?? kusimpan nomornya dengan nama Minseok oppa..hahaha..seongseongnim kepanjangan ah.

5 menit
10 menit
12 menit

dia belum membalas pesanku sama sekali, aku jadi ragu dengan nomornya. Atau jangan-jangan dia sudah tidur?? mana mungkin, baru saja jam 18.30.

Aku berharap dia membalas pesanku, jantungku ini kenapa malah berdetang kencang lagi? padahal hanya sedang menunggu balasan pesan darinya.

pip
pip
pip

Akhirnya dia membalas pesanku, hatiku merasa sangat bahagia dan jantungku mulai berdetak kencang (lagi)

From : Minseok Oppa

Ne..
Nuguseyo??

To : Minseok Oppa

Ini muridmu seongseongnim..

Balasku..bodoh kenapa tidak langsung beri tahu nama saja. Takut, itulah alasannya..tidak masuk akal pikirku.

From : Minseok Oppa

hahaha…muridku ada banyak jadi aku tidak tahu kau muridku yang mana.
.
.
.

Aku tersenyum kecil membaca balasan pesan darinya, aku rasa tidak masalah jika aku mengerjainya.

To : Minseok Oppa

aku jamin, seongseongnim tidak mengenaliku…jadi tidak perlu tahu siapa aku.

From : Minseok Oppa

hahaha. . . .aku jadi merasa seperti penjahat saja, tidak mengenali muridku sendiri.

To : Minseok Oppa

ah…tidak penting mengetahui siapa aku, yang jelas aku hanya ingin berteman dengan seongseongnim.

tapi boleh aku meminta satuhal padamu?
.
.
.

Semoga saja dia tidak marah karna tidak kuberi tahu identitasku.

From : Minseok Oppa

boleh..apa permintaanmu? asal jangan yang macam-macam ya.

To : Minseok Oppa

boleh aku memanggilmu oppa?

From : Minseok Oppa

mwo? jadi kau seorang yeoja?
.
.
.

Matilah aku!! sudah tidak memberi tahu nama, dan dia tahu aku seorang yeoja..aish aku bodoh sekali, bagaimana jika dia salah paham kalau aku mengejar-ngejar dia..

oke. .aku mencintainya tapi aku tidak sepenuhnya berharap bisa memilikinya.

Kemudian ku beranikan diriku untuk membalas pesannya.

To : Minseok Oppa

wae? kau tidak suka jika seorang yeoja mengirimmu pesan?? atau jangan-jangan setelah ini kau tidak akan membalas pesanku?
.
.
.

Aku penasaran bagaimana reaksinya setelah ini.
.
.
.

igae mwoya!? sudah hampir 15 menit tapi dia belum juga membalas pesanku. Apa dia marah padaku?

Kuputuskan diriku untuk memberanikan diri mengirim pesan padanya lagi

To : Minseok Oppa

Mianhamnida seongseongnim~ apa kau marah padaku?

From : Minseok Oppa

ani..bukan seperti itu, tadi aku ada sedikit gangguan saja.

tidak masalah jika kau seorang yeoja..kau boleh memanggilku oppa anggap saja aku sebagai temanmu.
.
.
.

Syukurlah, kupikir dia akan marah..

To : Minseok Oppa

ne oppa. . .gomawo ^^

From : Minseok Oppa

Cheonma^^
.
.
.

Setelah itu aku tidak membalas pesannya, aku tidak mau tidak belajar malam ini, sadar akan diriku yang sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Keesokan  harinya di sekolah____

Hari ini aku melihat Minseok seongseonim bermain sepak bola di lapangan, kebetulan sekali sekolahku ada lapangan sepak bolanya.

Yang ku tahu Minseok seongseongnim itu hobinya bermain sepak bola, Luhan dan Sehun saja sampai ikut-ikutan menyukai sepak bola karna Minseok seongseongnim.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku menghampiri mereka setelah bermain sepak bola, Minseok seongseongnim, Luhan dan Sehun. Peluh mereka terlihat mengalir sangat banyak pasti mereka sangat lelah. Untungnya aku menyempatkan diri membawa 3 botol air mineral untuk mereka.

“ah, gomawo” jawab Luhan, Sehun dan Minseok seongseongnim begitu menerima air mineral dariku.

Aku terus memandangi wajah Minseok seongseongnim yang terlihat kelelahan, sesekali dia meneguk botol minumnya atau mengusap keringatnya yang mengalir.

Di saat seperti ini Minseok seongseongnim terlihat sangat keren.

DEG

Minseok seongseongnim menoleh ke arahku, dia tersenyum tapi aku biasa saja lalu menundukkan kepalaku beralih menatap layar handphone yang sedang aku pegang. Selalu seperti ini jika sedang bersama dengan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRUK

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, melihat langit-langit kamarku sekarang aku bosan tidak tahu enaknya melakukan apa.

Pip
Pip
Pip

From : Minseok Oppa

Annyeong~~

Mwo? Tumben sekali dia mengirim pesan terlebih dahulu. Ini benar-benar membuatku senang seperti mendapat jalan saja untuk lebih dekat dengannya.

To : Minseok Oppa

Nado annyeong oppa….tuben sakali oppa?

From : Minseok Oppa

Hah? Ahahahahah iya aku sedang bosan jadi aku mencari teman untuk bermain

To : Minseok Oppa

Wah kita sama dong oppa…kalau begitu boleh kutanya sesuatu?

From : Minseok Oppa

Boleh, asal jangan bertanya kenapa aku gendut…

To : Minseok Oppa

Hahahaha…..aku tahu itu karna kau sering tidur dengan bakpao

From : Minseok Oppa

Aish..kau ini minta di jiitak ya…

To : Minseok Oppa

Hehehehe….oppa sudah tahu siapa aku?

From : Minseok Oppa

Nah itu dia yang ingin kutanyakan…kau siapa?

To : Minseok Oppa

Memangnya oppa yakin mengenaliku?

From : Minseok Oppa

Hmmmm…yakin tidak yakin si..soalnya abstrak…

To : Minseok Oppa

Heh? Abstrak bagaimana?

From : Minseok Oppa

Kan kita sedang sms-an, aku tidak bisa melihat wajahmu apalagi mengenalimu mangkanya abstrak…

To : Minseok Oppa

Aigoo oppa ini ada-ada aja, bukan abstrak tapi putih abuabu agak ngeblur gitu…LOL

From : Minseok Oppa

HAHAHAHAHAHAHA…..yak!!! cepat beritahu siapa kau sebenarnya, kau ini malah melawak tidak jelas seperti itu..tapi lumayan lucu juga…

To : Minseok Oppa

Oke….Lee Han In imnida….sudah kuduga oppa tidak mengenaliku karna aku bukan Hyuna 4Minute yang ngetop bareng PSY…

Frome : Minseok Oppa

Mwo? ahahahah…. aish, kupikir siapa ternyata kau sahabat dari HunHan bersaudara..

To : Minseok Oppa

Eh? Oppa tahu aku?

From : Minseok Oppa

Tentu saja, kau itu jarang bicara kalau kita ber-empat sedang bersama….kau selalu sibuk dengan handphonemu…dari raut wajahmu saja jelas sekali kau tidak ingin di ganggu. Wae kau seperti itu?

To : Minseok Oppa

euu..tidak apa-apa aku hanya ingin malas bicara saja mangkanya aku seperti itu..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah percakapan yang menurutku membuat diriku senang, aku langsung tidur begitu saja karna memang ini sudah larut malam. Tapi, aku harus bagaimana jika besok aku bertemu dengannya? Aku benar-benar bingung ini diluar dugaanku niatku hanyalah menyukainya secara diam-diam dan tidak mau kenal dekat dengannya aku takut jika kelak dia bukan milikku maka aku akan sakit hati, aku tidak mau mencintainya terlalu dalam sebelum dia menjadi milikku tapi kenapa aku merasa setiap waktu cintaku bertambah padanya, apakah nanti ada waktu di mana aku patah hati karenanya?

Malam ini perasaanku benar-benar tidak karuan, sesaat senang sesaat takut akupun bingung sendiri dengan perasaanku ini.

Tes
Tes
Tes
Tes

Kurasakan pipiku mulai membasah, wajahku ku tenggelamkan pada bantal yang ku pegang. Hawa dingin mulai menerpa hatiku seakan besok aku tidak ingin melihat diriku lagi. Aku yang terisak perlahan mulai tak sadar sudah terbawa dengan rasa lelah ini, menuju alam tidurku.

Keesokan harinya…

Aku bangun dari tidurku, mataku sembab karna semalaman menangis dan sekarang perasaanku mulai agak sedikit tenang, mungkin karna sudah tidur.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku.

Sejenak aku bercermin, aku melihat diriku yang begitu menyedihkan…apa benar ini aku? Ini pertama kalinya aku melihat diriku yang agak kacau  jika ku katakan ini karnanya, aku rasa tidak juga menurutku ini karna keadaan atau takdir atau keduanya. Cukup sekali ini saja aku menangis karnanya dan aku yakin aku akan lebih tegar kedepannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku memasuki ruang kelas, hari ini tidak ada pelajaran Minseok seongseongnim jadi aku rasa aku tidak perlu menerka-nerka apa yang terjadi padaku nanti jika bertemu pada saat jam pelajarannya, tapi mungkin tidak untuk saat ini saja, entahlah kalau besok bagaimana.

BRAAKKK

“waaaaaaaaaaa~~~~kau ini apa-apaan sih…?”

Luhan yang terkejut karna aku membanting tasku di atas meja dengan keras.

“mian…aku sedang bad mood”jawabku pelan

“eung…kau kenapa?” tanya Sehun dengan wajah penasarannya

“sudah kubilang aku sedang bad mood”

Ini orang menyebalkan sekali!!! tidak tahu apa kalau aku sedang bad mood tidak ingin membicarakan apapun, terutama sebab kenapa aku seperti ini.. huh, dasar Sehun seperti baru pertama kali mengenalku saja.

Tidak lama kemudian seongseongnim kami masuk kedalam kelas untuk memulaipelajaran hari ini. Aku mulai membuka tas ku untuk mengambil buku teks pelajaran dan buku tulisku, dan akhirnya pelajaranpun di mulai. Kubiarkan diriku fokus pada mata pelajaran yang di sampaikan oleh seongseongnim kami tapi pada akhirnya bad mood ku muncul kembali.

Ayolah Han In kau harus fokus, kau tidak boleh seperti ini…ini adalah tahun terakhirmu di SMA dan sebentar lagi kau akan menghadapi ujian kelulusan, kau boleh memikirkan Minseok seongseongnim tapi jangan di saat seperti ini.

Puk puk puk

Ku pukul-pukul pipiku dengan pelan agar pikiranku bisa kembali fokus lagi. Meskipun agak sakit.

“Han In kau kenapa?” tanya Lim seongseongnim padaku begitu melihat tingkahku yang aneh ini

“ah…aniyo seongseongnim, mianhamnida” jawabku sambil menundukkan kepalaku

“cobalah untuk fokus Han In”

“ne seongseongnim”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini sudah pulang sekolah, aku Sehun dan Luhan berjalan pulang menuju rumah Luhan. Hari ini kami akan belajar kelompok di rumah Luhan.

“Han In..bad moodmu apa sudah sembuh?” tanya Luhan padaku

“sudah” jawabku singkat

“tapi kenapa wajahmu masih di tekuk seperti itu?” tanya Luhan kembali karna tidak yakin dengan jawabanku

“apanya? tidak kok biasa saja”

“mau ku belikan bubble tea?” kini Sehun yang bertanya padaku dengan smirknya yang makin membuatku kesal.

“memangnya aku kau eoh? sedikit-sedikit minta bubble tea”

“kau juga kalau di kasi mau kan?”

“tapi aku tidak semaniak kau”

“ya…mana ada maniak bubble tea?

“kau itu maniaknya”

“itu namanya kesukaan”

“tapi itu terlalu berlebihan”

“apanya berlebihan?”

“kesukaanmu itu”

“kau menghinaku?”

“aku tidak bicara seperti itu ya,tapi kau yang bilang sendiri”

“KAU MENYEBALKAN!!!” teriak Sehun di depan wajahku

“KAU LEBIH MENYEBALKAN!!” teriakku lebih kencang di depan wajah Sehun

“BERHENTIIIII!!!” kini Luhan berteriak di antara kami sambil membekap mulut kami masing-masing

“kalau kalian terus bertengkar sepanjang jalan, lebih baik aku balajar sendiri saja!!!! Sebaiknya kalian diam jika tidak ingin aku tinggal!!! Arraseo?”

Kami berdua mengangguk dan Luhanpun melepaskan tangannya dari membekap mulut kami.

“huh…kalian ini memalukan!! di tengah jalan bertengkar sudah seperti bocah balita saja” omel Luhan pada kami.

Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan tanpa bicara sedikitpun. Luhan berjalan di antara kami untuk berjaga-jaga agar kami tidak bertengkar lagi. Dan wajahku masih tetap cemberut, Sehun juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
@Luhan’s House

“akhhh…kenapa jawabannya aneh” keluh Sehun yang sudah terlihat stres karna mencoba menyelesaikan soal matematika.

“memang soal apa yang kau kerjakan?” tanya Luhan pada Sehun

“mencari hp dari SPLDV menggunakan invers matriks”

“sini coba ku lihat” sahutku sambil merebut buku yang di pegang Sehun, padahal Luhan sudah bersiap mau mengambilnya.

“ish..kau ini” desis Luhan padaku dan aku hanya terkekeh menaggapinya

Lalu aku mencoba meneliti soal yang tadi di kerjakan Sehun

“aigoo Sehun….tentu saja jawabannya aneh”

“apa yang salah?” tanya Sehun penasaran

“lihatlah…ini adjoinnya kenapa tandanya belum kau ubah?”

“memang harus di ubah?”

“ck…tentu saja..lihat ini ordo 2×2..mudah untuk di kerjakan, nah didalam adjoin ini kau harus ubah diagonal utama bertukar tempat dan diagonal samping di ganti tandanya, yang positif menjadi negatif dan kebalikannya.” Jawabku panjang lebar dan Sehun mengangguk tanda kalau dia mengerti. Sehun memang anak yang cepat sekali tanggap jadi ku tidak perlu mengulangi penjelasanku lagi.

“kau tahu apa artinya ini Sehun?” kataku pada Sehun

“mwo?”

“kau seperti ini karna efek kebanyakan minum bubble tea”

“TIDAK ADA HUBUNGANNYA!!”  teriak Sehun tepat di telingaku. Membuat pendengaranku terngiang-ngiang.

“yak!!!kenapa kau teriak padaku?” bentakku

“kau itu selalu memulai duluan”

“tapi tadi di jalan kau yang memulai duluan”

Kami saling memaki satu sama lain dan berteriak. Kenapa Sehun selalu menjengkelkan dan tidak mau mengalah padaku? aku ini kan wanita dan lagi pula aku lebih muda darinya, yang tua kan harus mengalah dari yang muda. Tapi lama-lama perasaanku merasa tidak enak, seperti ada yang mengintai kami. Aku dan Sehun menoleh ke samping dan kami melihat Luhan dengan seribu tatapan pembunuhnya.

“kalian ingin ku lempar lewat jendela?” tanya Luhan dengan sadis pada kami

“a-a-ani..” jawab kami ketakutan

Kamipun melanjutkan belajar kami, kali ini lebih serius karena Luhan yang mengajari kami sekarang. Memang di antara kami dialah yang paling pintar meskipun Luhan suka bercanda seperti kami tapi jika sudah belajar kelompok seperti ini dia hanya ingin ada keseriusan yang kami lakukan.

“aduh, susah sekali” keluhan Sehun membuka keheningan kami dalam belajar

“kalau susah kita minta bantuan Minseok seongseongnim saja seperti biasanya” kataku atau lebih tepatnya itu memang alasanku saja karena ingin bertemu Minseok seongseongnim

“ah, kau benar” jawab Luhan

“sebentar lagi dia kan pergi…mungkin saja ini kesempatan
terakhir kita belajar kelompok dengannya” tambah Sehun

“hmmm” aku hanya mendeham untuk menanggapinya sambil membaca bukuku. Sejujurnya mendengar kalimat barusan membuat perasaanku menjadi tidak nyaman.

“baiklah, kalau begitu aku telefon dia” Luhan mengangkat telfonnya untuk menelefon Minseok seongseongnim. Dari percakapan mereka yang ku dengar, sepertinya Minseok seongseongnim menyetujui permintaan kami, seperti biasanya.

“kira-kira setelah ini Minseok seongseongnim mau kemana ya? Apa dia akan kuliah lagi atau bekerja?” tanyaku basa-basi kepada mereka berdua

“molla” jawab Luhan singkat

Jadi begitu mereka tidak tahu. Apa aku harus tanya sendiri kepada Minseok seongseongnim

“ck…kau ini bagaimana si Luhan, bukankah dia pernah bilang kalau dia akan melanjutkan kuliahnya di luar negri”

“jinjja? Luar negri?” jawabku kaget

Jika Minseok seongseongnim kuliah di luar negri pasti sangat sulit bertemu dengannya. Haaah…..apa aku akan menjadi frustasi karena ini?

“oh iya aku lupa, dia akan kuliah di luar negri sekaligus menyusul yeojachingunya…hehehehe”

JDEEEERRRRRR…..seperti mendengar guntur 5cm di dekat telingaku, kata-kata Luhan barusan mungkin yang akan membuatku frustasi seumur hidupku.

Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menahan air mataku untuk keluar, sekarang aku tidak bisa melanjutkan belajar kelompok ini lagi. Aku harus pergi, bagaimana jadinya nanti saat Minseok seongseongnim datang?? Aku tidak tahu respek apa yang harus kutanggapi padanya. Perasaanku menuntunku agar saat ini aku harus menangis saja, tapi tentu tidak disini.

“maaf aku harus pulang” sambil membereskan buku-bukuku aku pamit pada kedua temannku dengan suara pelan dan kepalaku yang masing menunduk untuk mencoba menyembunyikan wajah sedihku ini.

“wae?” tanya Luhan dan Sehun secara bersamaannya

“eobseo, aku hanya teringat sesuatu saja” jawabku kemudian aku bergegas pergi, menyadari air mataku yang mulai jatuh
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hiks hiks hiks hiks

Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis dan menangis, berkali-kali aku menyeka air mataku tapi berkali-kali pula air mataku jatuh. Dadaku, ani, tapi hatiku merasa sakit entah karna sakit atau karna perasaan ini tapi rasa sakit ini selalu datang meskipun aku sedang bahagia sekalipun. Mungkinkah tuhan sudah memberikan pertanda ini pada diriku, kelak aku akan patah hati seperti ini? Lama-lama hatiku semakin sakit rasanya seperti di pukul berkali-kali dan badanku mulai terasa lemas, rasanya ingin sekali pingsan.

BRUUUKKKK

Aku jatuh tersungkur, bukan karena tidak bisa menjaga keseimbangan tapi karena aku menabrak seseorang tapi itu terjadi karena aku jalan sambil menunduk. Sudah terjatuh aku masih teap saja menangis dan berusaha lagi menyeka air mataku berkali-kali meskipun akhirnya terjatuh lagi.

“gwaenchana yo?” tanya orang itu sambil mengulurkan tangannya padaku

Aku hanya menunduk sambil tetap menangis

“gwaenchana yo? Mianhe aku tidak sengaja”

Ani, akulah yang menabrak dia, harusnya aku yang minta maaf, tapi rasanya sulit sekali untuk bisa bicara. Satu-satu jawaban yang ku keluarkan hanyalah suara tangisannku ini. Kurasa orang itu tahu aku mengis, kemudian dia bejongkok di hadapanku.

“Han In?”

Akupun menoleh  mendengar orang itu memanggil namaku

“o-oppa?” seketika itupun aku berhenti menangis melihat Minseok oppa ada di hadapanku, tapi sesaat kemudian air mataku jatuh lagi

“kau kenapa? Bukankah seharusnya kau di rumah Luhan untuk belajar kelompok?”

“a-ak…hiks hikhs” aku tak kuasa untuk menjawab pertanyaan Minseok oppa, aku hanya bisa menangis saja

“apa meraka menyakitimu?” tanya Minseok oppa lagi, kali ini wajahnya benar-benar sangat khawatir

“a-aniyo..hiks..o-oppa”

“kalau begitu kau kenapa Han In-ah?” tanya Minseok oppa dengan lembut dan sambil menghapus air mata dipipiku menggunakan kedua tangannya. Ini pertama kalinya dia menyentuhku mungkin yang terakhir juga.

“ceritakan padaku apa yang membuatmu seperti ini”

Bukannya menjawab tapi tangisanku bertambah kencang mendapat perlakuan seperti ini dari Minseok oppa. Kau begitu baik dan penuh perhatian tapi karna kau juga aku seperti ini aku harap kau tidak akan pernah menyadarinya, aku tidak ingin kau menjauhiku karna aku mencintaimu..

“hiks hiks hiks” aku masih tetap menangis,  Minseok oppa hanya terdiam melihatku, ekspresinya seperti mengasihani diriku tapi dari sudut yang lain telihat ada kesedihan di matanya melihatku seperti ini.

“uljima” katanya sambil menghapus air matanku lagi dan tangisanku malah makin menjadi-jadi. Rasa sakit hatiku datang lagi. Oppa, aku sedang tidak ingin bertemu denganmu tapi aku juga membutukanmu, tolong buat ini tidak nyata.

Suara tangisku terredam karna wajahku berada di dada Minseok oppa, dia memelukku dan membelai rambutku. Sesekali dia bekata ‘uljima’ kepadaku tapi aku tetap saja menangis kencang.

“aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini, aku juga tidak akan memaksamu untuk memberitahuku..tapi kalau ini salahku, tolong maafkan aku Han In”

“a-aniyo..hiks..ini sa-salahku oppa” jawabku masih tetap dalam pelukannya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Seberkas cahaya matahari pagi menerobos jendela kamarku dan memantul pada wajahku. Akhirnya aku terbangun pagi ini, kukira aku akan mati karena kejadian kemarin.

Kulihat jam menunjukkan pukul 09.00, tapi aku sedang tidak niat sekolah, mataku terasa sembab karena menagis semalaman dan kepalaku terasa sangat pusing. Rasanya aku mau pingsan, kucoba mengatur nafasku tapi dadaku juga terasa sesak. Hatiku? Sama juga, terasa sangat sakit. Sebeginikahnya aku mencintai Minseok oppa, bukankah ini terlalu berlebihan?

Tok tok tok tok

“masuklah”

“apa kau tidak pergi sekolah?” tanya eommaku

“kepalaku pusing”

“jnjja?” eommaku menghampiriku, dengan perlahan dia memeriksa keningku

“sepertinya kau terkena demam”

“aku rasa juga begitu”

“kalau begitu tunggu sebentar, eomma ambilkan obat dulu sekalian menelepon kesekolah untuk mengizinkanmu”

“ne eomma”

Eommaku pergi meninggalkan kamarku, 3 menit kemudian dia kembali membawa semangkuk  bubur dan segelas air putih serta obat untukku.

Aku menghabiskan makananku dan meminum obatku kemudian eomma menyuruhku istirahat.

“eomma, jika ada yang ingin menjengukku tolong jangan biarkan mereka masuk..siapaun mereka…ya eomma?”

“wae??  Bahkan jika Luhan dan Sehun sekalipun?” tanya eommaku terkejut

“siapa saja tidak terkecuali, aku hanya ingin sendiri dan tidak ingin bertemu siapaun”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
5 hari berlalu semenjak aku sakit dan hingga saat inipun aku masih sakit. Hari ini hari kepergian Minseok oppa keluar negri. Begitu cepat, padahal masih ada 3 bulan lagi, aku tidak tahu kenapa. Sehun memberi tahuku lewat pesan, tapi aku tidak membalasnya. Berkali-kali pula mereka menelfon dan mengirim pesan padaku tapi aku tetap saja tidak menjawabnya. Lagi pula pertanyaan mereka juga sama terus ‘kenapa kau tidak ingin bertemu kami?’ atau ‘kenapa kau tidak mengangkat telfonmu dan membalas pesan kami?’. Jawabannya kan sudah jelas, aku hanya ingin sendiri!!!!

Ku alihkan pandanganku keluar jendela. Warna jingga langit karna pancaran sinar matahari tenggelam menghiasi bingkai jendelaku, ‘indah’ gumamku. Lebih indah jika aku melihatnya bersama Minseok oppa, hanya kami berdua.

Ani..ani… itu tidak mungkin terjadi Lee Han In, sadarlah sekarang dia sudah pergi tanpa mengetahui perasaanmu yang sebenarnya.

Minseok oppa, aku tidak akan membuka hatiku pada siapaun selain dirimu. Aku yakin kau akan kembali untukku, meskipun aku meyakinkan diriku seperti ini hanya untuk menghibur diriku semata…

Tes tes tes tes

Hiks…hiks…hiks..hiks…suara tangisku mulai bergema memenuhi kamarku, aku menenggelamkan wajahku pada bantal, meredam suaraku agar siapaun tidak mendengarnya. Dan kesekian kalinya sejak tadi pagi hatiku terus saja sakit. Uhuk uhuk uhuk…kenapa aku jadi batuk, padahal kan aku sedang menangis??? Han In kau aneh!!!! Benar-benar kali ini hatiku terasa sakit sekali berbeda dari biasanya!! Mataku sudah tidak kuat lagi untuk terbuka, sekujur tubuhku terasa sakit. Lama-kelamaan mataku bena-benar tertutup. Apa aku akan pingsan atau mati?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Mataku tebuka, aku menyadari selang infus berada di tangan kiriku, ini rumah sakit. Gumamku. Sayup-sayup ku dengar suara tangis di sampingku, lalu aku menoleh. Kulihat eomma menangis terisak. Kenapa dia?

“Han In-ah, kau sudah sadar?” tanya eomma terkejut saat melihatku yang sudah sadar ini

Aku hanya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Perasaanku sekarang sudah lebih baik dibandingkan sebelum aku pingsan.

“eomma” panggilku pelan

“uljima….aku hanya terkena tipes lagi kan?”

“hiks…ne, tapi tetap saja kau membuat eomma khawatir…kau tidak tahu betapa khawatirnya eomma saat menemukanmu pingsan di kamarmu? hiks”

Aku hanya tersenyum mendengar celotehan eommaku, dia memang selalu saja khawatir padaku meskipun menyangkut hal sekecil apapun.

“mianhe eomma”

“geurae…Sehun dan Luhan akan datang menjenguk sebentar lagi,kalau begitu eomma tinggal sebentar ya? Kau tidak apa-apa kan?”

“ne eomma…”

Eommaku pun pergi meninggalkanku sendirian. Ku ubah posisiku menjadi duduk di atas kasur. Aku memandang ke arah pintu masuk, menunggu kedatangan Sehun dan Luhan. Apa mereka akan cepat datang?

Cklek

Pintu kamarpun terbuka, Sehun dan Luhan mulai masuk, Luhan membawa bingkisan yang sepertinya buah-buahan untukku, mereka tersenyum dan akupun membalas senyuman mereka.

Lalu mereka berjalan menuju ranjangku dan duduk di kedua kursi yang ada di samping ranjangku.

“kau sudah baikan?” tanya Luhan

“ne…seperti yang kalian lihat?”

“ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kau seperti menutup diri dari kami? Bahkan kau tidak datang ke acara perpisahan Minseok seongseongnim” tanya Luhan lagi

Sejenak aku berfikir untuk menjawab pertanyaannya. Haruskah aku memberi tahu mereka tentang yang ku alami selama ini?

“apa Minseok seongseongnim berkata sesuatu tentangku kepada kalian?” tanyanku berhati-hati

Sehun dan Luhan saling menatap seakan bingung dengan pertanyaan yang aku lontarkan pada mereka. Sehun menatapku kembali dan berkata..

“hmmmm….ne, dia hanya menitip salam untukmu”

“jadi begitu” aku mengalihkan pandanganku dari mereka ke sudut yang lain

“apa ini ada hubungannya dengan dia?” tanya Sehun

Jadi Minseok oppa tidak menceritakan apa yang terjadi di antara kami waktu itu pada mereka? Baik sekali dia. Aku rasa memang harus aku yang memberi tahu pada mereka.

“Han In-ah kau….”

“aku mencintai Minseok oppa” belum sempat Luhan berbicara aku sudah memutuskannya dengan kata-kata itu yang akhirnya ku keluarkan juga

“mwo?” jawab mereka tidak percaya

Sudahlah, akhirnya akupun menceritakan semuanya pada mereka. Mulai dari aku melihat Minseok oppa pertama kali hingga di mana aku menangis dalam pelukannya, sepanjang ceritaku aku terus menangis terisak dan mereka tidak berbicara apapun hanya mendengarkan, dan sesekali Luhan mengusap air mataku dengan sapu tangan yang di bawanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

7 Bulan Kemudian

“Sendiri

Telusup diriku hadir dalam hembusan angin
Terpejam mata ini, merasakan deru nyawaku
Tidak tersentak
Tidak terkejut
Mengalir mengikuti arah waktu
Mengambil kendali jiwa yang sendiri
Tidak termenung
Tidak kosong
Menatap jauh di alam bawah sadar
Menyukainya,
Selamanya akan seperti ini”

“sekian”

“apa itu? jelek sekali”

“yakk…. Oh Sehun!!! Setidaknya puisiku jauh lebih baik darimu!!” bentakku pada Sehun yang tidak terima jika dia menjelek-jelekan karyaku.

Huh…dasar semua orang juga tahu kalau dia itu selalu buruk jika membuat puisi. Begitupun dia masih ngotot masuk univesitas jurusan sastra. Untung saja aku dan Luhan selalu membantunya saat akan menghadapi ujian masuk universitas, oleh sebab itu dia di terima masuk universitas jurusan sastra, sama seperti kami.

Aku, Sehun, dan Luhan. Saat ini kami kuliah di universitas yang sama dan di jurusan yang sama pula. Ini adalah hari pertama kami masuk kuliah. Untuk kesekian kalinya kami bersam-sama lagi dan kami tetap bahagia seperti ini.

“annyeong~”

Seorang namja dengan senyuman yang manis menyapa kami yang sedang duduk di kantin ini. Spontan membuat kami menoleh dan sedikit mendanga ke arahnya.

“bolehkah aku bergabung dengankalian?”

“eu…” aku sedikit kikuk dan menggaruk-garukkan kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya. Kami biasa bertiga, aneh saja jika ada orang lain bersama kami tapi tidak untuk Minseok oppa,hehehe…. lagi pula apa salahnya jika bertambah satu teman.

“duduklah tidak apa-apa” Sehun cepat menyambar tangan namja itu dan membuatnya duduk di samping dia. Aku hanya tetap memandang bingung

“memang kau tidak bisa mencari orang lain selain kami?” jawabku ketus tanpa melihat wajah namja itu

“maaf ya, patah hatinya belum sembuh jadi moodnya selalu jelek..kekekeke”

“yak!!! Sehun!! Apa maksumu bicara seperti itu” bentakku pada Sehun sambil membelakkan mataku

Sehun, Luhan dan namja itu hanya terkekeh mendengar responku barusan. 3 lawan 1, ini tidak adil, lebih baik aku diam saja, daripada nantinya jika aku bicara kata-kataku malah di jadikan bahan lelucon oleh mereka.

“kalau begitu biar kusembuhkan patah hatimu…hahahahah” kata namja itu padaku

“hei…kau tidak sopan bicara seperti itu padaku, kenal saja belum” bentakku

“hehehe….mianhe” jawabnya di selingi dengan kekehan dan senyumannya yang…errrr… lumayan manis, tapi tetap saja menyebalkan.

“oh ya, joneun Xi Luhan imnida, dia Oh Sehun, dan dia Lee Han In. Siapa namamu?” tanya Luhan pada namja tersebut setelah memperkenalkan diri kami masing-masing

“joneun Kim Jongdae Imnida, bangapseumnida” jawabnya sambil sedikit membungkukkan badannya.

Hmmm…..marganya sama seperti Minseok oppa..

TBC

*malu ngumpet di balik selimut* eottae? Gajenya ffnya? Kata-katanya ancur? #jdeeerrrrr.hikse.hikse

Author selalu aneh kalo bikin ff beginian, aneh bin gajelah. Kalo misalkan jelek gak author lanjutin deh…ff, elo gue cemewew *paan dah* tapi udah terlanjur di bikin, mudah-mudahan aja ntar yang komen bisa bikin inspirasi author bagus.

Ini inspirasi emang datang dari kehidupan nyata author loh, cumpah deh ciyus..tapi untuk part 1 doang, yang selanjutnya mah…mustahil dari kehidupan author, tapi ngarang sendiri chiiin..

Hehehehe udah ya segitu aja

Ditunggu RCLnya >

Gomawo annyong….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s